Kemahalan tapi booming

Tadi sore, seorang teman nitip makanan yang lagi booming di Bandung.

Bagi saya makanan itu kemahalan, terlepas cara marketingnya yang unik sehingga menyebabkan makanan itu booming, tetap saja bagi saya harganya tidak masuk akal. Kalau bukan titipan mustahil saya beli makanan tersebut.

Selain makanan itu, ada juga dua barang yang menurut saya juga kemahalan. Kemahalan dengan apa? Dengan kualitas dan kapabilitas barang atau makanan itu sendiri.

Tiga barang/makanan itu adalah :

1. Keripik Singkong Maicih, bagi anda yang diluar Bandung atau yang lagi tinggal di Bandung atau berasal dari kalangan atas di Bandung atau apalagi yah,,,,,ini tidak mahal.

Tapi, bagi saya yang berasal dari kampung, harga keripik singkong sebanyak itu dengan harga 15ribu tidak masuk akal. Jadi untuk makanan itu harga 5ribu untuk ikut menghargai kreativitas cara jualannya cukup.

2. Blackberry, bagi saya BB tidak ubahnya handphone cina yang memiliki messenger sendiri yakni bbm kalau tidak ada itu harganya tidak beda dengan harga handphone cina, tidak lebib dari 500ribu saja. Ketika ditambah BBM yah paling jadi satu juta cukup kayaknya. Lagi-lagi karena orang pada pake dan marketingnya bagus maka bb jadi booming. Beberapa teman meulai merasakan lemotnya Bb akhirnya mereka pake dua atau tia gadget sekaligus, bb, android dan cdma. Mereka butuh bb karena dah banyak contact aja d bbm.

3. Bukunya Merry Riana, A Gift From A Friend, bukunya memang di atas rata-rata menurut saya. Menceritakan bagaimana dia sendiri mendapatkan uang banyak dari awalnya terpuruk dengan gigih bekerja.

Sebenarnya buku ini tekah beredar sekitar 2007-2008 harganya tidak lebib dari 50ribu. Ketika dicetak ulang dan terbit tahun 2011, harganya menjadi sekitar 128ribu, dengan isi yang tidak berubah.

Saya kira tidak logis jika pernah ada buku yang sama dan kemudian dicetak ulang harganya bagai langit dan bumi. Tapi karena marketingnya bagus, bukunya booming juga.

Untuk yang nomor dua saya terpaksa pakai karena alasan di atas, untuk yang nomor satu say cukup nyicip aja deh, hehe. Untuk yang ketiga, beberaa kali ke toko buku bahkan bukunya sudah dimasukin keranjang, tetapi selalu berubah pikiran, ini kemahalan, ini bukan mendorong semangat para pemuda, ini kapitalis, tidak fair, membeli berarti mendukung. Jadi selalu tidak jadi dan kayaknya tidak akan beli.

Kemahalan? Ga tuh akalin pakai Marketing handal.

Kemahalan tapi booming

2 thoughts on “Kemahalan tapi booming

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s