Antara Ahmad Heryawan, Irwan Prayitno dan Hidayat Nurwahid

Entahlah saya senang mengikuti dinamika politik bahkan sampai detik-detik menegangkan. Ini berlangsung sejak kecil kalau ada pemilihan tingkat apa saja pasti antusias mengikuti. Alhamdulillah kuliah juga tidak jauh-jauh amat dari kajian politik.

Pada tahun 2008, warga Jawa Barat melaksanakan Pilkada Langsung pertama dalam sejarah. Danny Setiawan yang dipilih melalui DPRD pada tahun 2003 mencalonkan lagi dan digadang-gadang akan berpasangan dengan calon yang diajukan oleh PKS, Ahmad Heryawan, koalisi Golkar -waktu itu pemenang Pemilu- dengan PKS dirasa sangat ideal. Lawan terberatnya, Agum Gumelar-Nukman Abdul Hakim hasil koalisi PDIP sebagai pemegang kursi terbanyak kedua di Jabar dengan Nukman dari PPP, Wakil Gubernur saat itu. Tiba-tiba di beberapa hari menjelang pendaftaran, koalisi yang dibangun Golkar-PKS bubar. Danny kemudian mencari kandidat wakil yang baru, kandidat yang muncut saat itu mantan Pangdam Siliwangi Iwan Sulanjana, yang kemudian berhasil menggaet Partai Demokrat -saat itu partai menengah- menjadi kendaraan politiknya.

PKS merana, Ahmad Heryawan tidak punya pasangan, di hari-hari akhir komunikasi terbangun dengan PAN yang saat itu juga memiliki kandidat yang juga belum mempunyai pasangan, Dede Yusuf. Melalui lobi alot akhirnya dengan modal 21 kursi dari PKS dan PAN, Heryawan-Dede memenangi Pemilu Jabar 2008.

Sumatera Barat lebih tragis, pada pilkada Gubernur 2010 tersebut, PKS telah sepakat mengusung Fauzi Bahar-Trinda Farhan, tiba-tiba menjelang pendaftaran koalisi pecah, Fauzi Bahar menggandeng calon wakil yang lain, Yohanes Dahlan dari PPP. Ditinggal begitu saja membuat PKS Sumbar mengasah otak, akhirnya muncul nama Prof. Irwan Prayitno calon Gubernur yang kalah pada Pilkada 2007 oleh Gamawan Fauzi -sekarang, mendagri. Irwan yang datang ke Padang di sore hari penutupan pendaftaran kemudian berpasangan dengan Muslim Kasim. Pasangan yang daftar paling akhir ini kemudian kita ketahui bersama memenangkan Pilkada dengan satu putaran.

Kondisi serupa tampaknya saat ini terjadi di Pilkada DKI Jakarta. Triwicaksana yang pada awalnya akan dipasangkan dengan Foke kemudian “ditinggal” dan Foke memilih calon wagub lain, Ketua DPD PD DKI, Nachrowi Ramli. Pada detik-detik terakhir kemudian terjadi kejutan dengan diusungnya pasangan yang tidak disangka-sangka dan luput dari pengamatan media dan jarang muncul dalam survey-survey pilkada DKI, Dr. Hidayat Nurwahid – Prof. Didik J. Rachbini. Apakah Hidayat-Didik bisa mengikuti jejak Ahmad Heryawan dan Irwan Prayitno? wallahu ‘alam, kita tunggu hasilnya 11 Juli 2012!.

Antara Ahmad Heryawan, Irwan Prayitno dan Hidayat Nurwahid

2 thoughts on “Antara Ahmad Heryawan, Irwan Prayitno dan Hidayat Nurwahid

  1. maspardi says:

    biasanya yang terzhalimi itu mayoritas kalahnya diawal, namun diakhir cerita endingnya adalah kemenangan,amin. selamat berjuang tuk Pak Hidayat – Didik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s