2008: Diego Milito, Kampung Rambutan dan Saya

Judul yang aneh, apakah saya pernah ketemu Diego Milito di Kampung Rambutan? atau Diego Milito pernah jadi sopir bis Kampung Rambutan terus saya jadi Kondekturnya? tentu saja bukan.

Sekitar April tahun 2008 menjelang akhir musim liga-liga eropa, saya sedang berada di pesisir pantai Tasikmalaya.

Hari itu sabtu, tiba-tiba harus berada di Jakarta pada minggu pagi. Untunglah setelah menumpang mobil pengangkut kelapa saya tiba di Karangnunggal.

Rencana awal ikut numpang sampai Bandung, untuk mampir nengok orang tua. Rencana batal karena ternyata barang yang harus diangkut truk itu masih belum lengkap. Sopir bilang mungkin tengah malam baru selesai muat barang.

Untungnya sekitar jam 7 malam tersebut ternyata masih ada bis Doa Ibu jurusan Karangnunggal – Jakarta, dengan fasilitas AC Bisnis dengan tarif waktu itu Rp. 45.000,-.

Saya baru tahu ternyata terminal bis Karangnunggal ini lumayan rame trayeknya karena banyak mengangkut masyarakat yang ziarah ke Gua Pamijahan.

Singkat cerita akhirnya saya menumpang bis tersebut langsung ke Jakarta, menengok orang tua dilakukan setelah urusan di Jakarta selesai.

Sampai di Jakarta masih dinihari sekitar jam 3.30 Dini hari. Menunggu waktu shubuh, alhamdulillah karena minggu dini ada pedagang yang menggelar tikar untuk nonton siaran TV.

Waktu itu, pertandingan seru antara Real Zaragoza dengan tim La Liga lain yang saya lupa namanya. Yang jelas waktu itu Zaragoza dihuni beberapa pemain terkenal tetapi berada di peringkat buncit La Liga.

Salah satu pemain tersebut adalah Diego Milito. Waktu saya pikir bahwa Milito sudah (akan) habis dan pemain-pemain terkenal yang main di Zaragoza hanya sekedar menunggu waktu karirnya berakhir, termasuk Milito.

Perkiraan tampak benar ketika di akhir musim, Zaragoza benar-benar relegated dari La Liga, Diego Milito kemudian menerima tawaran untuk kembali bermain di Genoa, semusim bermain di Genoa, kualitas Milito memang saya tak pernah ragukan, dia tetap bermain bagus dan stabil, tetapi tetap saja Genoa angin-anginan.

Musim selanjunya Diego kemudian direkrut Mourinho dan menjadi bagian dari kesuksesan dari Inter dalam merebut Treblewinner.

Poinnya adalah ternyata terkadang orang yang kita anggap habis atau masa puncaknya sudah lewat bisa kembali meretas puncak dan menggapai puncak baru yang merupakan benar-benar menjadi puncak dalam hidupnya.

Itulah Milito, kita?

2008: Diego Milito, Kampung Rambutan dan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s