Prediksi Sederhana Pilkada DKI Jakarta

Tulisan ini pandangan saya pribadi menjelang suksesi kepemimpinan Jakarta esok hari.

Sebenarnya mau menulis kemarin-kemarin tetapi banyak tulisan dan kegiatan lain yang harus diprioritaskan.

Berhubung Pilkada Jakarta akan berlangsung besok maka kita lihat kira-kira siapa yang bisa memimpin Jakarta.

Pilkada Jakarta tahun ini diikuti 6 Pasangan calon, 4 dari jalur parpol dan 2 jalur Independen.

No. 1 Foke-Nara diusung Demokrat dkk, No. 2 Hendardji-A. Riza Patria, Independen, No. 3 Jokowi-Ahok, PDIP-Gerindra, No. 4 Hidayat-Didik diusung PKS, No. Faisal-Biem Benyamin, Independen dan No. 6 Alex-Nono diusung Golkar dkk.

Berbagai survey sudah dilakukan ada yang perlu kita  cermatin ada yang masuk akal

Berbagai analisis juga banyak dilakukan, ada yang menurut saya objektif seperti :

 

Ada juga analisis yang tidak karuan, katanya tidak boleh justifikasi orang, tapi dianya justifikasi. Saya mual bikin linknya. Walaupun untuk pendapat pribadi oke-oke saja. Ujungnya sih titip dukungan buat salah satu pasangan independen.

Bagi saya Independen itu bukan berarti tudak punya kepentingan, cuma isu yang diusung belum populer sehingga ketika dijual melalui membangun sebuah partai juga belem tentu mendapatkan dukungan, akhirnya setting opini dimana-mana. Kebetulan media tampak sejalan ide-idenya.

Kembali ke Pilkada Jakarta, dari keenam pasangan itu kelihatannya salahsatu pasangan Independen akan sedikit menonjol, yakni Faisal-Beim. Tetapi masih haqqul yakin untuk memenangkan pilkada masih jauh.

Dari jalur parpol ada tiga yang bersaing ketat, Foke, Jokowi dan Hidayat.

Kemungkinan besar Pilkada akan berlangsung dua putaran, dan menurut saya yang maju ke putaran kedua ini diantara ketiga pasangan ini.

Jadi, sorry to say kepada anda yang terpengaruh tulisan Pandji, pasangan Faisal-Biem akan kalah di putaran pertama. Alasannya gampang, selain harus bersaing dengan kekuatan partai yang lebih solid dibanding ikatan yang ada di pendukung calon independen, dia juga harus bersaing dengan sesama pasangan independen, Hendardji.

Dengan jargon “Berdaya bareng-bareng”, dua hari lalu twitter resmi Faisal-Biem menantang pertanyaan dari tweeps. Salah satu wartawan Jawa Pos bertanya, tolong sebutkan 10 tetangga kanan-kiri Faisal Basri, wuih langsung deh ramai. Bagaimana mau berdaya bareng-bareng tukang soto ujung jalan ternyata kata twitter tersebut tidak rumahnya calon gubernur. Mungkin ini agak klise tapi itulah kenyataannya.

Jadi, saya harus katakan Parpol itu artikulasi dan fungsi dalam masyarakat untuk mengekspresikan keinginan politiknya. Kalau tidak suka dengan parpol yang ada bikin donk parpol baru bukan hanya nyalahin parpol yang ada.

So, jadi putaran dua akan diikuti 2 pasangan diantara Foke, Jokowi atau Hidayat.

Dan analisis saya, Hidayat akan maju ke putaran kedua, wuih pasti langsung nuduh saya timses Hidayat yah, No way saya tidak punya hak pilih tuan.

Jadi apa alasannya? PKS itu solid jadi suaranya tidak akan lepas kemana-mana, satu-satu partai kader terbaik di Indonesia, banyak penulis yang menulistentang PKS karena memang bisa dianalisis. Salah satunya Buku yang lagi Best Seller “Dilema PKS” yang ditulis oleh pengamat politik Burhanudin Muhtadi.

Jadi dengan 6 calon ini, jika PKS bisa mempertahankan 20% dukungan 2009 dan dapat tambahan dari PAN 5% dan massa mengambang sekitar 5% maka 30%, lolos ke putaran 2.

Sayangnya, karena partai kader itu tidak pakai uang, dia menggaet kadernya dengan meyakinkan secara logik dan penyebaran pemhamanan maka akan susah menambah capaian suara dalam waktu yang singkat. Apalagi banyak pihak yang masih menganggap PKS sebagai komunitas yang konservatif sementara kalangan konservatif juga menganggap PKS sudah melenceng. Intinya angka susah nambah.

Saya tidak asal ngomong, buktinya terjadi di Pilkada, Kalimantan Timur, Kota Bandarlampung dan Kab. Bandung.

Jadi biasanya kalah kalau masuk putaran 2, kalau ada kejadian luar biasa yang mungkin-mungkin saja toh.

Siapa yang akan jadi lawan diputaran 2 antara Foke dan Jokowi, disini pertarungan kekuasaan dan popularitas.

Jika Foke yang masuk putaran 2 maka Hidayat punya peluang mendingan untuk menang ngalahin Foke walaupun tetap Foke di atas kertas menang, para pendukung dari kandidat yang kalah akan sedikit lebih banyak masuk ke Hidayat tetapi akankah cukup untuk menang? saya masih ragu.

Sebaliknya jika Jokowi yang masuk putaran 2 akan lebih mudah memenangkan putaran 2 atas Hidayat, karena pendukung kandidat yang kalah sebagian besar akan berada di belakang Jokowi.

Hitungan saya sie, Foke masuk ke putaran kedua, artinya popularitas Jokowi masih kurang kuat dibanding kekuatan Foke.

Kalau Pandji dkk? saya sie kok yakin dia masih terpengaruh sama orang-orang yang islamophobia, sehingga siapapun yang lawan Hidayat, karena mereka mengganggap PKS itu konservatif maka mereka akan dukung lawan Hidayat, siapapun itu.

Salah satu temannya Pandji, finansial planner terkenal bahkan pernah jawab ketika ditanya dukung siapa di Pilkada Jakarta dia jawab lewat twitnya, “asal bukan PKS”.

Jadi, kondisi standarnya adalah, Pilkada DKI belangsung dua putaran. Hidayat masuk ke putaran kedua, lawannya adalah Foke atau Jokowi. Lawan Hidayat diantara keduanya ini kemungkinan akan menjadi Gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Kalau kejadiannya diluar itu berarti luar biasa.

Ini pandangan pribadi, mohon maaf jika ada kekurangan. Mudah-mudahan siapapun yang menjadi Gubernur DKI bisa membawa Jakarta menjadi lebih baik.

Prediksi Sederhana Pilkada DKI Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s