Mudik, yuk!

Mungkin hanya di Indonesia, setiap hari raya idul fitri tampak lebih semarak sebelum dan sesudahnya.

Beberapa media malah lazim menggelar liputan khusus tujuh hari sebelum dan sesudah lebaran.

Mudik, menjadi ritual yang melekat pada setiap perayaan idul fitri, khususnya di tanah air.

Fenomena ini bisa dilihat secara positif dan negatif.

Di satu sisi, mudik mendorong pergerakan ekonomi dari kota ke desa. Mudik menjadi salah satu upaya masyarakat untuk silaturahim dengan keluarga besar di kampung. Jika seseorang dapat mudik itu merupakan bukti keberhasilan seseorang dalam mengarungi hidup. Kadang tidak perlu bawa oleh-oleh yang penting hadir pada hari raya bersama keluarga, itu cukup menjadi bukti.

Namun di sisi lain, mudik membuktikan masih adanya jurang kesenjangan antara kota dan desa atau antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga orang-orang harus pergi dari kampung/ daerahnya untuk mendatangi sumber-sumber ekonomi. Ini Peer besar pemerintah dan kita semua.

Saya juga rindu mudik, baru sekali saya rasakan mudik, yakni tahun 2007 ketika jadi buruh pabrik perusahaan kosmetik yang lagi naik daun di daerah Tangerang. Saya lupa itu H- berapanya.

Setelah itu bahkan sampai hari ini kayak belum merasakan mudik lagi. Tiga tahun ini setelah berumahtangga kami belum pernah merasakan lagi takbiran dan shalat ied di kampung, biasanya kita mudik setelah hari H.

Mudah-mudahan kaum muslimin yang mudik bisa selamat semua sampai tujuan, ketemu keluarga masing-masing dan ketemu handai taulan.

Selamat mudik! selamat lebaran!

Mudik, yuk!

2 thoughts on “Mudik, yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s