Administrasi Publik dan Kepekaan Sosial

Seorang yang belajar kebijakan publik kita dipaksa peka terhadap berbagai perkembangan pembangunan karena ini menyangkut dengan perkembangan publik. Terkadang kita menjadi terkesan ingin tahu urusan orang, itu tidak dapat dipungkiri bahwa administrasi publik merupakan pengelolaan urusan-urusan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang menjadi kehendak publik.

Jadi ingat ketika beberapa tahun lalu pernah disindir seorang, tidak apa-apa tapi mari ambil hikmahnya saja. Seseorang tidak/ belum respon terhadap perkembangan pembangunan yang berkembang ketika hal tersebut belum mengganggu urusan pribadinya secara langsung. Ketika laju pembangunan mengganggu urusan pribadinya baru yang bersangkutan memberikan respon, tentu saja ini terlambat.

Dua-Tiga tahun yang lalu, di depan Bandung Super Mall kalau teman-teman ingat terdapat suatu bangunan tua yang menurut saya mengurangi keindahan pemandangan Mall. Sebagian lahan di sekitar bangunan tua dan telah dikuasai pihak mall tersebut digunakan sebagai tempat parkir motor.

Saya menduga bahwa pihak mall pasti ingin menguasai tanah bangunan tersebut. Bangunan tersebut letaknya tepat di seberang lurus jalan Turanggga. Inget kan?. Entah kenapa lebih 10 tahun BSM berdiri bangunan ini belum juga dikuasai BSM dan sangat jelas merusak pemandangan.

Ada kabar beredar bahwa tanah tersebut merupakan milik pemerintah sehingga sulit dikuasai swasta. Saya coba tanya salah seorang teman yang saya pikir dia tahu, dia malah jawa sambil nyindir “Gini yah kuliah dijurusan ini, sukanya ngurusin urusan orang”, begitu kurang lebih jawabannya.

Yah, sabar saja mungkin bertanya pada orang yang tidak tepat sehingga bukan jawaban yang diterima tetapi sindiran. Saya berpikir waktu itu bahwa bangunan tua tersebut cepat atau lambat pasti akan menjadi milik mall tersebut dan ketika itu terjadi maka akan terjadi pembangunan yang lebih besar lagi yang mau tidak mau pada akhirnya akan secara langsung mengusik lingkungan sekitar.

Tampaknya prediksi saya mulai terbukti, bangunan itu saat ini sudah tidak ada. Setelah dikuasai pihak mall dan saat ini disulap menjadi pintu masuk Hotel Bintang Tujuh pertama di Asia Tenggara. Sampai titik ini masyarakat belum secara langsung terganggu secara langsung kecuali makin ramai dan macetnya kendaraan salah satunya adalah dengan ditutupnya arah lalu lintas dari jalan Turangga.

Beberapa waktu kemudian ada seseorang dari warga terlihat mulai menggalang dukungan untuk menolak pembangunan jembatan penyebrangan di depan Mall tersebut yang tepat berada dipinggir rumah seorang warga, tampaknya mulai terasa dampaknya secara langsung kepada masyarakat. Dan kini terlambat, jembatan penyebrangan itu saat ini sudah hampir selesai dan dipastikan masyarakat tidak bisa apa-apa lagi.

Mudah-mudahan jembatan tersebut bermanfaat bagi warga untuk menyebrang, walau dapat kita lihat bahwa beberapa jembatan penyebrangan tidak terlalu efektif dan bermanfaat selain untuk menambah lahan iklan.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pembangunan cepat atau lambat akan merubah tatanan masyarakat baik secara kultural maupun secara struktural, perubahan yang menuju arah yang lebih baik tentu harus kita dukung tetapi sebaliknya perubahan yang merusak tatanan masyarakat harus kita antisipasi kalau bisa sedini mungkin sehingga energi yang digunakan tidak terlalu besar.

Yuk, kita lebih sensitif.

Administrasi Publik dan Kepekaan Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s