Tenis Meja: Di Olimpiade ada China, Di PON ada Jawa Timur?

Tenis meja memang bukan olahraga yang cukup populer di Indonesia, bila dianalogikan dengan gadget maka tenis meja bisa diibaratkan sebagai produk-produk Apple yang indah, berharga premium dan memiliki penggemar yang sangat loyal.

Permainan tenis meja yang indah kurang diiringi dengan pemerataan prestasi. Sangat sulit membuat kejutan dalam permainan tenis meja, kualitas pemain tenis meja yang tersegmentasi secara jelas membuat kejutan dalam tenis meja menjadi sulit. Pemain jagoan tingkat Kelurahan pasti akan sulit kalahkan pemain tingkat di atasnya.

Dalam pembagian jagoan-jagoan tersebut, mak China semakin mengukuhkan diri sebagai penguasa tenis meja dunia, pemain-pemain China begitu mendominasi berbagai kejuaraan dunia, peringkat atas ITTF silih berganti menjadi milik pemain China. Regenerasi yang terjadi di China pun begitu mulus, ketika Liu Ghou Liang dan Kong Ling Hui belum habis sudah muncul Wang Liqin, Ma Lin dan Wang Hao, kini ketika pemain-pemain ini pun masih sulit dikalahkan jago-jago negara-negara lain, sudah muncul para jagoan baru seperti Zhang Jike dan Ma Long.

Hegemoni China dalam tenis meja berhasil benar-benar mereka kukuhkan dalam Olimpiade London 2012 lalu. Semua medali emas diborong oleh China, bahkan dalam pertarungan nomor perorangan jika tidak dilakukan pembatasan setiap negara hanya boleh mengirimkan dua wakilnya, bisa sangat mungkin perolehan medali sampai perunggu dapat diraih oleh pemain-pemain China.

Ketika China menyiapkan pemain-pemain baru yang lebih kuat untuk mengganti seniornya maka negara-negara lain kebanyakan masih mengandalkan pemain-pemain lama, seperti Jerman yang bertumpu pada Timo Boll dan Ochtarov, Belarusia masih andalkan Vladimir Samosonov, Korea Selatan masih andalkan trio Ryu Seung Min, Joo Seo Hyuk dan Euh Sang Eun, Jepang andalkan Jun Mizutani. Hal ini menunjukkan bahwa regeneasi China sulit ditandingi.

Jatim Penguasa PON?

Bila di dunia ada China, maka di Indonesia ada Jawa Timur. Apakah Jawa Timur masih menjadi penguasa tenis meja di Indonesia? jawabannya bisa ya dan tidak.

Jawaban tidak jika kita mengacu kepada faktor utama salah satu kemunduran pusat pembinaan tenis meja Jawa Timur bahkan bisa dikatakan pusat pembibitan petenis meja tingkat nasional, yakni bubarnya Klub Tenis Meja Surya Kediri. Hampir semua pemain-pemain kelas atas Indonesia beberapa waktu tahun ini merupakan pemain yang dibesarkan atau pernah mencicipi pembinaan di klub tersebut. Sejak klub ini bubar banyak pemain yang mencari pusat pembinaan baru baik yang masih ada di Jatim atau di luar Jatim.

Jawaban Ya, jika dinilai bahwa walau klub Surya bubar tetapi pemain-pemain terbaik klub tersebut masih bernaung di klub yang berada di Jawa Timur sehingga dalam PON otomatis pemain-pemain top seperti Gilang Maulana, Ficky Supit, M. Husein masih menjadi andalan Jatim.

PON 2008 di Kaltim lalu tim Jatim membuktikan tajinya sebagai penguasa tenis meja di Indonesia dengan menyapu bersih semua medali emas yang disediakan.

Apakah PON kali ini Jatim akan kembali melakukan aksi sapu bersih medali emas, gejala ke arah itu memang jelas terlihat ketika dua emas pertama yang disediakan untuk nomor beregu putra dan putri berhasil menjadi milik Jawa Timur. Kita lihat apakah lima emas tersisa akan mereka ambil semua atau ada beberapa yang jatuh ke Provinsi lain?

Sayang tidak ada siaran langsungnya, sedih!

Tenis Meja: Di Olimpiade ada China, Di PON ada Jawa Timur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s