Hari Terakhir di Batam

Kemarin adalah hari terakhir di 2012, hari ini adalah hari pertama 2013.

Hampir semua kita ketahui akhirnya kecuali beberapa hal yang tidak bisa kita tentukan akhirnya, salah satunya adalah mati.

Terbangun tidur siang barusan tiba-tiba ingat beberapa peristiwa terakhir, hari kuliah terakhir, hari perjaka terakhir dan hari terakhir di Batam. Yang terakhir ini saya coba urai sebagai kenangan.

Tepat hari Jumat 9 Agustus 2002, saya akhiri pengembaraan di Pulau Batam. Dua tahun lebih setiap hari mengukir cerita di Pulau penuh kenangan ini.

Pagi itu saya terlebih dahulu bergegas ke daerah Jodoh memakak taksi khas Batam untuk mencairkan chek gaji terakhir.

Sepulang dari Jodoh saya mampir ke Komplek Pertokoan Batamindo untuk menebus foto-foto yang sehari sebelumnya dicuci cetak, waktu itu belum belum populer kamera digital.

Saya masih mengingat dimana hari itu saya shalag Jumat, pertama saya shalat di Mesjid Nurul Iman, mesjid yang juga studio radio RGFM yang saya rintis bersama beberapa rekan. Kemungkinan kedua Jumat itu saya shalat Jumat di mesjid Nurul Islam, dekat pertokoan Batamindo.

Selesai shalat jumat, kemudian makan siang dan beresin barang-barang akan dibawa. Memang barang-barang tidak terlalu saya bawa sendiri, beberapa bagian telah saya kirim lewat jasa pengiriman barang.

Sekitar pukul 14 lebih dihantar beberapa teman dengan menggunakan taksi pergilah kami ke bandara dan melewati pabrik tempat selama ini saya bekerja PT. Advanced Interconnect Technologies – sekarang bernama PT. Unisem- jalanan yang tidak terlalu padat membuat waktu tempuh ke bandara bisa tepat. Kemudian saya lakukan proses cek in dan boarding.

Waktu itu alhamdulillah sedang ada promo tiket pesawat dari Bouraq Airlines, kalau tidak ada itu maka tiket pesawat merupakan sesuatu yang mahal, perang tarif seperti saat ini belum ada. Penerbangan dari Batam alhamdulillah lancar dan sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada jam 18.00 lebih.

Dari bandara saya gunakan bus Damri ke terminal bis Kampung Rambutan kemudian dengan mengendarai bis saya mencapai terminal bis Leuwipanjang pada dininari. Tentu saja waktu itu belum ada travel dan tol cipularang, bis mengambil jalur Purwakarta.

Perkembangan komunikasi yang belum secanggih saat ini membuat saya tidak bertemu bapam yang menjemput di Leuwipanjang. Bapak yang kurang sehat memaksakan ikut menjemput berdua dengan saudara yang punya mobil.

Bapak menunggu di tempat setiap bus menurunkan penumpang, sementara saya tidak tercegat dan kemudian menunggu di terminal elf menuju Ciwidey. Ada beberapa orang yang juga menunggu pagi karena memang angkutan menuju Ciwidey biasanya tidak tersedia 24 jam.

Namun tak begitu lama menunggu kemudian ada satu elf yang datang, akhirnya naiklah ke elf tersebut dan menjelang shubuh sudah sampai di Ciwidey, sementara Bapak datang juga beberapa waktu kemudian. Mungkin kalau saat ini dengan kemajuan teknologi informasi dan kumunikasi hal ini bisa dihindari.

Beberapa teman masih meneruskan karirnya di Pulau Batam, yang alhamdulillah tahun 2010 lalu saya bisa menginjakkan kembali ke Pulau penuh cerita yang sudah banyak berubah ini.

Hari Terakhir di Batam

One thought on “Hari Terakhir di Batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s