Sate Aci

Tiba-tiba saya ingat sate aci. Aci adalah terjemahan Bahasa Sunda untuk tepung. Standarnya ketika orang menyebut aci itu menunjuk kepada tepung tapioka/ singkong. Tepung ini oleh sebagian masyarakat sunda digunakan sebagai bahan dasar berbagai kuliner khas, diantaranya seperti yang kita kenal saat ini seperti cireng, cilok dan seterusnya.

Dulu, tapi tidak dulu banget, aci ini juga digunakan untuk membuat sate jajanan anak-anak, sebut saja kemudian sate aci. Sate ini disajikan sama dengan sate daging cuma bahan baku dagingnya saja yang diganti dengan aci. Ini diganti supaya harga jualnya menjadi terjangkau oleh anak-anak usia SD.

Ibulah yang membuat saya kenal dengan sate aci. Dalam rangka ingin membantu keuangan keluarga, ibu membuat sate aci ini. Pekerjaan bapak lambat laun tersaingin dengan keberadaan sistem konveksi yang mampu menghasilkan pakaian dalam jumlah yang lebih massif tetapi dengan harga jauh lebih murah. Sementara bapak tetap dengan konsep tailor yakni menerima bahan dari pelanggan untuk dijahit.

Atas kondisi itu kemudian keluarga melakukan berbagai usaha untuk bertahan. Strategi bapak saya ceritakan dalam tulisan lain, termasuk beberapa strategi ekonomi yang lain. Sementara disini tentang sate aci saja.

Sate aci dibuat dengan sederhana sebenarnya. Bahan sate yang berasal dari aci alias tepung singkong, pertama-tama dilarutkan dengan air sampai encer, lalu digoreng seperti telor dadar dengan ketebalan tertentu setebal kikil kalau sekarang. Setelah matang kemudian dipotong-potong seukuran sate daging pada umumnya, seperti sate kikil besarnya. Setelah itu lantas ditusuk satu persatu. Satu tusuk sekitar 4-5 potongan aci.

Untuk bumbunya ibu membuat bumbu sate sama seperti pada umumnya, kacang tanah digoreng dan dihancurkan diulek, dulu belum ada blender. Proses selanjutnya adalah bumbu tersebut dilarutkan dengan air dan ditambah kecap.

Setelah itu satu persatu tusukan sate dimasukan ke bumbu tadi kemudian disusun di atas piring. Piring-piring yang telah penuh dengan sate aci lantas dititipkan kepada penjual makanan di sekolah SD dan dititipkan ke warung-warung sekitar.

Pengen tahu harganya? Waktu itu harga pertusuknya adalah Rp. 25,-. Saya lupa tahun berapa mungkin sekitar tahun 1986-1987 sampai menjelang 1990. Tidak terlalu banyak memang mungkin ibu hanya membuat paling banyak sekitar 100 tusuk saja jadi kalau laku semua pendapatan kotornya cuma Rp. 2.500,- namun itulah ikhtiar.

Sate aci, simbol perjuangan ibu membantu keuangan keluarga. Ingat sate aci, ingat ibu dan sebaliknya. Mudah-mudahan perjuangan itu menjadi bekal ketaqwaan ibu, bukti bahwa ibu tidak menyia-nyiakan karunia kehidupan dan menjadi saksi kesalehan ibu membela kelurga yang memberatkan timbangan kebaikan di hari perhitungan.

Baru sampai di sini saja ternyata saya, si anak sate aci. Belum bisa mengembalikan keringat dan perjuangan ibu mengurus dan memenuhi kebutuhan saya dulu dari sate aci.

Semoga ibu sehat dan bahagia.

Saya tidak kuat lagi…..

Sate Aci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s