Bagaimana Keluarga Muslim Mengelola Keuangan*

Dalam fiqh terkait masalah tanggung jawab ekonomi keluarga mutlak menjadi tanggungan suami. Ketika seorang istri bekerja maka penghasilannya menjadi miliknya seutuhnya. Apabila seorang istri membantu mencukupi kebutuhan keluarga, maka akan bernilai sebagai shadaqah.

Islam mengajarkan prinsip qana’ah, atau bersyukur terhadap pemberian Allah, meski hal itu tidak serta merta menghalangi seorang keluarga muslim untuk membeli barang yang menurut pandangan masyarakat menjadi kebutuhan tertier, seperti mobil. Sebab semua bergantung pada kebutuhan. Apabila aktivitas memang memerlukan mobil, maka menjadi penting sebuah
keluarga membeli mobil sebagai sarana transportasi yang menunjang mobilitas keluarga.

Yang perlu dicatat adalah tentang hutang konsumtif, jangan sampai sebuah keluarga mempunyai hutang yang hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Dibutuhkan ketelatenan untuk menjaga kondisi keuangan keluarga agar tidak defisit atau besar pasak daripada tiang. Manajemen keuangan keluarga yang baik, di dalamnya senantiasa menjaga keseimbangan antara besarnya pendapatan keluarga dan pengeluaran.

Pos-pos dalam keuangan keluarga ditata rapi sehingga tidak akan menciptakan defisit cashflow. Lalu bagaimana sebuah keluarga muslim mengelola cashflow keluarganya? Menurut Uus Hamdani, seorang Independent Financial Planner yang mengisi kolom Konsultasi Keuangan mengatakan bahwa sebenarnya cashflow keluarga muslim yang ideal sederhana saja namun cukup kompleks ketika dipraktikan. Di sana ada empat bagian yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Alokasi untuk Allah SWT, yakni Zakat, Infaq dan Shadaqah. Untuk hal ini, kini lebih gampang, bisa meminta fasilitas autodebet rekening gaji setiap kali menerima gaji untuk disalurkan kepada Lembaga Amil Zakat. Sebaiknya alokasikan tidak kurang 10% dari penghasilan per bulan untuk alokasi ini.

2. Alokasi kewajiban, berbagai cicilan dan pembayaran bulanan yang wajib dibayarkan seperti cicilan KPR, kendaraan, kartu kredit atau Pajak Tahunan seperti PBB dan Pajak Kendaraan Bermotor. Kewajiban-kewajiban ini perlu ditunaikan karena jika tidak akan berakibat timbulnya berbagai denda yang bisa membebani cashflow. Para ahli berpendapat berbagai kewajiban ini tidak boleh melebihi 35% dari pengeluaran perbulannya.

3. Alokasi untuk masa depan, yakni dengan berinvestasi,menabung dan membeli asuransi yang dibutuhkan. Alokasiini sangat penting sebagai ikhtiar dalam memenuhitujuan keuangan yang dimiliki secara efisien.

4. Alokasi rutin dan gaya hidup, alokasi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan sembako, listrik, air, transportasi, komunikasi dan untuk melakukan berbagai hal yang lebih kepada keinginan seperti menonton, membeli jam tangan dan ganti kacamata.

Cashflow Keluarga Muslim

Pada dasarnya pengaturan keuangan keluarga muslim tidak banyak berbeda dengan pengaturan keuangan pada umumnya, akan tetapi sebagai seorang muslim yang mempunyai kewajiban terhadap Sang pencipta, maka tentu hal tersebut harus didahulukan. Itulah satu yang berbeda dan menjadi keistimewaannya.

“Arus kas (cashflow) keluarga muslim banyak memiliki keistimewaan dibanding cashflow biasa. Salah satu prinsipnya adalah Pay Your God First, artinya sebagai keluarga muslim prioritas utama pengeluaran adalah dengan menjalankan perintah Allah SWT berkenaan dengan harta yang miliki, bayar dulu zakat kemudian sempurnakan dengan infaq dan shadaqah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Setelah terpenuhi baru alokasikan buat rencana-rencana keuangan yang lain seperti membuat dana darurat, melunasi hutang konsumtif, membeli asuransi dan berinvestasi, baru kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Uus.

Disiplin adalah hal yang harus dipegang saat merencanakan sebuah chasflow keluarga. Investasi berkala juga diperlukan untuk rencana-rencana yang membutuhkan keuangan besar seperti pendidikan, pembelian rumah maupun dana pensiun. Yang lebih penting lagi adalah gaya hidup. gaya hidup harus menyesuaikan dengan penghasilan yang didapat per bulan. Allah melarang sesuatu yang berlebihan seperti disebutkan dalam QS Al Israa 27 bahwa orang yang berlebihan (pemboros) itu saudaranya syetan.

Menuaikan Hak Harta dengan Infaq dan Shadaqah

Akhir tahun selalu identik dengan bonus tahunan untuk para pekerja atau karyawan. Lalu bagaiamana cara mengelolanya? Yang jelas, hak dari bonus tahunan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu dengan infak dan shadaqoh. Uus menjelaskan bahwa ketika menerima bonus, alokasikan sekitar 10% untuk infaq dan shadaqoh. Selanjutnya periksa apakah dana darurat sudah cukup jumlahnya, jika masih kurang penuhi dulu. Kalau dana darurat pernah terpakai setahun kemarin segera gunakan bonus untuk kembalikan nominal dana darurat. Dana darurat digunakan untuk menanggulangi kebutuhan mendesak dan jika terjadi musibah.

Setelah itu periksa apakah terdapat hutang konsumtif baru, kalau ternyata baru-baru ini menggunakan kartu kredit untuk beli gadget atau baju (konsumtif), gunakan bonus yang diterima untuk melunasinya. Jika ternyata setelah penuhi dana darurat dan lunasi hutang konsumtif, bonusnya masih ada atau ternyata dana darurat selama ini tidak terganggu dan tidak ada hutang baru maka bonus yang diterima bisa investasikan. Tidak semuanya tentu, karena biasanya investasi sudah dihitung sebelumnya dan rutin dialokasikan dari penghasilan bulanan, maka Anda tidak perlu habiskan semua.

Tidak sedikit keluarga yang bisa dibilang belum tepat mengelola bonus yang diterima setiap akhir tahun. Dua penyebab di antaranya, pertama belum memiliki kesadaran finansial yang memadai sehingga belum mempunyai prioritas tujuan keuangan yang harus dicapai agar keuangan keluarga terkelola dengan baik. Kedua, menganggap bonus akhir tahun adalah dana non-budget yang bebas digunakan untuk apa saja sekehendak hati, karena datang serta jumlahnya juga tidak dapat diprediksi. Sebaliknya apakah memang bonus akhir tahun tidak bisa digunakan untuk kegiatan yang menyenangkan seperti liburan keluarga? Tentu saja hal-hal positif seperti di atas juga perlu dilakukan untuk menambah keharmonisan keluarga. Intinya ketika terima bonus, periksan prioritas dan tujuan terlebih dahulu, apakah ada yang terganggu atau tidak.

*dicuplik dari Majalah Rumah Zakat Edisi 2 Bulan November 2013

Bagaimana Keluarga Muslim Mengelola Keuangan*

2 thoughts on “Bagaimana Keluarga Muslim Mengelola Keuangan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s