Rohingya: Antara Solidaritas dan Diplomasi

rohingnya2

Pertama kali saya mendengar derita Muslim di Arakan, dikenal dengan Muslim Rohingya, tahun 1999 ketika terjadi Peristiwa Ambon. Seorang mubaligh dari Jakarta sedang melakukan kunjungan dalam rangka menggalang dana untuk Muslim Ambon.

Selebihnya saya membaca di media-media Islam terbatas. Sampai sekarang memang penindasan terhadap etnis Muslim Rohingnya seperti kurang mendapat perhatian dari publik secara umum karena kurang diangkat di media.

Masalah muslim Rohingnya bukan masalah baru, sama seperti muslim di Pattani, kaum Moro di Filipina dan beberapa tempat lain di mana muslim menjadi minoritas. Semua memiliki kasus yang berbeda-beda tetapi intinya sama, penindasan terhadap hak-hak kaum muslim.

Yang saya pahami tentang konflik ini (Silah koreksi bila keliru), etnis muslim Rohingnya telah mendiami daerah Arakan berabad-abad. Tetapi sejak 1982 etnis Rohingya tidak termasuk dalam etnis yang diakui oleh Pemerintahan Burma. Sejak itu nasib etnis Rohingnya menjadi tidak jelas, dalam istilah kerennya, etnis ini menjadi Apatride atau Stateless, alias tidak memiliki kewarganegaraan sebuah negara.

Celakanya mereka memiliki wilayah yang telah didiami sejak berabad-abad. Tampaknya–koreksi bila salah– pemerintah memilih melakukan–langsung atau tidak langsung–pembersihan etnis. Inilah yang kemudian membuat etnis Rohingnya berjuang bertahan hidup dan bahkan keluar dari wilayahnya untuk mencari suaka dan bertahan hidup.

Bantuan Solidaritas

Dua malam lalu, saya bertemu dengan salah satu direktur di lembaga organisasi kemanusiaan. Beliau bercerita bahwa sampai saat itu telah ada sekitar serubuan etnis Rohingnya yang ditemukan ditengah laut oleh nelayan dalam kondisi memprihatinkan dan dibawa ke darat agar bisa mendapatkan bantuan yang lebih baik. Diperkirakan masih ada sekitar 15.000 orang yang keluar dari wilayahnya akibat kejaran “kelompok lain”.

Dalam pekan ini, semua NGO Muslim terkemuka di tanah air memfokuskan kegiatannya untuk membantu etnis Rohingnya yang terdampar di beberapa daerah di Aceh dan Sumatera Utara. Kita sebagai saudara muslim, sebagai solidaritas bisa melakukan donasi semampunya kepada lembaga-lembaga tersebut.

rohingnya3

Perjuangan Diplomasi

Bantuan solidaritas harus kita yakini bahwa hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Perlu adanya perjuangan diplomasi untuk menjamin eksistensi etnis Rohingnya. Bagaimanapun kehidupan sebuah etnis di dunia merupakan hak asasi manusia yang perlu dibela dan diperjuangkan. Sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia, sangat layak jika Indonesia mengambil perang strategis terhadap penyelesaian konflik ini secara menyeluruh. Tetapi apakah ini tugas utama Indonesia tentu juga bukan. Sehingga perlu ada bagian dari muslim yang bisa berdiplomasi membela umat Islam Rohingnya. Bukankah tidak mungkin membiarkan etnis Rohingnya dengan segala kelemahannya memperjuangkan bangsanya lewat jalur diplomasi?

Sabtu lalu, dalam sebuah peringatan Isra Miraj, di adakan acara bedah buku di komplek. Pembiacara agak berbobot satu Profesor dan satu Doktor, keduanya dari UIN Bandung. Walaupun saya agak aneh juga, peringatan Isra Miraj tapi yang dibahas buku tentang Khilafah dari Penerbit Mizan yang nulis Profesor dari UIN Jakarta yang sering muncul di TV.

Yang mengejutkan ternyata Sang Doktor dalam simpulan kajiannya, menungkapkan bahwa ideologi khilafah yang diusung oleh empat gerakan Islam adalah sesuatu yang Utopis. Dengan mengemukakan argumen-argumennya dengan tegas menyatakan bahwa Khilafah berakhir pada Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Simpulan ini, tentu langsung saja dibantah oleh Profesor. Saya pikir awalnya Profesor ini akan menguatkan pendapat Sang Doktor. Tetapi mengutip pendapat Asy-Syutuhi dalam Tarikh Khulafa, bahwa Kekhalifahan berakhir di Turki tahun 1924 H.

Kurang jelas pendapat Profesor tentang masih perlunya khilafah. Tetapi pada akhir paparan beliau berharap bahwa jika nantinya ada khilafah beliau berharap Khalifahnya berasal dari Indonesia.

Saya berpikir ternyata khilafah ini dibutuhkan untuk perjuangan diplomasi umat Islam seluruh dunia. Sehingga hadits Rasul SAW bahwa umat Islam adalah satu dapat terwujud dalam satu komando.

Apapun nama dan bentuk khilafahnya, mau seperti perserikatan seperti PBB atau seperti Vatikan bagi uamt Katolik, atau bagaimanapun bentuknya yang sesuai dengan kondisi kekinian itu tidak masalah. Bukankah Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa politik adalah bagian Ghoir Mahdhoh yang luwes dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan dasar dalam Islam. Islam sendiri pernah alami berbagai bentuk keuasaan, pernah berdasarkan keturunan dan tidak berdasarkan keturunan.

Kebutuhan kita akan komando mendunia atas umat islam (kalau tidak mau menyebut Khilafah) dibutuhkan salah satunya untuk perjuangan diplomasi bangsa-bangsa muslim untuk mendapatkan kedudukan terhormat sama dengan bangsa lain. Contoh kondisi hari ini adalah bangsa Palestina dan Etnis Rohingnya. Etnis Rohingnya misalnya apakah akan menjadi bangsa yang merdeka dengan wilayahnya yang ada sekarang atau ditampung menjadi warga suatu negara tertentu tentu ini perlu ada negara/badan yang memikirkan.

Hal ini perlu dirumuskan oleh semua bangsa muslim karena ternyata pihak-pihak lain yang selama ini berteriak membela hak asasi manusia baik dalam nasional maupun internasional seolah-olah keluh lidahnya tatkala pihak muslim yang menjadi korban. Kemana orang-orang pintar yang semangat kritisi pemerintah ketika terjadi eksekusi mati?

Oleh karenanya, umat muslim sepatutnya menyadari untuk mulai berperan diplomasi membela umat islam khususnya dan mengawal peradaban yang baik yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan seutuhnya.

Ini hanya, ulasan tidak penting dari seorang fakir ilmu dengan tumpukan dosa.

*foto-foto diambil dari FB Aksi Cepat Tanggap

Rohingya: Antara Solidaritas dan Diplomasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s