Meh Naon?

Kadang kita suka asyik melakukan sesuatu, asyik saja begitu tanpa pedulikan apa manfaat baik secara materi atau non materi dari aktivitas tersebut.

Kita hanya melakukan hal tersebut atas dasar senang melakukan hal tersebut, eh entah senang atau karena kebiasaan dipaksa.

Orang sunda bilang, Meh naon?, maksudnya apa sih atau untuk apa sih kita melakukan suatu hal tersebut sampai kita habis-habisan di situ.

Kadang jika dipikir, dampak yang dihasilkan dari aktivitas itu tidak signifikan. Tetapi pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran hampir semuanya tercurah.

Dua hal yang bisa menjadi ukuran kemanfaatan aktivitas bagi kita, yakni berkembangnya kemampuan dan kapasitas kita akibat dari aktivitas tersebut dan yang keduanya, suka atau tidak suka adalah penambahan materi.

Sengaja hanya kita ukur kemanfaatan bagi diri kita, karena tidak semua — termasuk aktivitas sekarang — tidak bisa diukur kemanfaatannya bagi masyarakat secara rasional. Kenapa demikian, karena kita mesti jujur bahwa aktivitas ini walaupun dilakukan dalam organisasi yang rasional menurut Webber, tetapi organisasi ini, persis seperti kata Van Meter dan Van Horn, tidak bisa melepaskan diri dari aspek politik dan aspek sosial.

Satu hal yang patut disyukuri bahwa, sebagian besar stakeholder aktivitas ini, adalah entitas religius yang sedikit banyak memiliki kiprah dalam rangka pembangunan ekonomi umat. Mudah-mudahan saja peran minimal ini turut serta dalam hal itu.

Lembang, 2/12
#kembalitidakpulang #mehnaon

Meh Naon?

2 thoughts on “Meh Naon?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s