“Mau kemana ki?”

Tekonologi menjadi pendongkrak utama globalisasi. Benar-benar atau tidak masih bisa diperdebatkan tetapi secara praktis terasa demikian.

Kemajuan teknologi khususnya teknologi informasi melahirkan berbagai ide kreatif yang memudahkan hidup manusia. Saat ini kita dimudahkan sistem transportasi online yang bagi sebagian kalangan ini kontroversial.

Namun trend sepertinya tidak bisa dibendung, seperti demokrasi suka atau tidak kita terpaksa dicebur, karena memang terasa manfaatnya.

Beberapa Kota memang belum kondusif benar menerima kemajuan teknologi informasi ini. Tapi karena kemudahan dan kenyamanan, moda berbasis online ini tetap eksis.

Di Kota Makassar saya manfaatkan betul moda ini, karena jarak yang tidak terlalu jauh ke tempat yang perlu yang kunjungi dengan harga yang terjangkau. Mudah, murah dan praktis.

Tapi jangan baper kalau ketemu sopir dengan logat Makassar, seperti “Mau kemana ki?” itu bukan artinya dia tahu namamu, Riki atau Kiki tapi itu maksudnya anda mau kemana? Atau seperti kemarin sopirnya tanya “Kita dari mana?” Kita? Bukannya baru ketemu?. Itu maksudnya anda darimana atau asalnya dari mana.

Teknologi ada untuk kita manfaatkan, jadi mari berkompromi dengan teknologi dan mengenal budaya bangsa. Teknologi terus berkembang, let’s us fit with him without lose our value.

27/04/2017

tepian Kota Makassar

“Mau kemana ki?”

Sekali lagi, Asuransi bukan Investasi!

Banyak berdiskusi dengan orang-orang untuk menyiapkan dana pendidikan anaknya, kebanyakan kawan menyiapkan dengan membeli produk asuransi pendidikan. Dalam dunia keuangan produk ini lebih dikenal dengan unitlink menggabungkan dua barang yang berbeda menjadi satu, yakni Asuransi dan Investasi.

Sederhananya begitu, karena sebernarnya tidak sesederhana itu. Dua barang tersebut harus memiliki izin yang berbeda. Disamping itu kedua barang tersebut juga memiliki peruntukan berbeda. Asuransi diperuntukkan melindungi kita dari peristiwa yang tidak kita inginkan. Apakah kita ingin anak kita tidak memiliki pendidikan? tentu saja tidak, maka sebenarnya terminologi asuransi pendidikan menjadi term yang keliru.

Sementara Investasi diperuntukkan untuk akumulasi/ mengumpulkan dana/ aset lebih cepat untuk mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Jenis-jenis invetasi kita paparkan lebih jauh nanti yah.

Menyiapkan dana pendidikan dengan asuransi pendidikan tentu saja lebih baik dibandingkan dengan tidak menyiapkannya sama sekali. Ini merupakan bentuk tanggungjawab terhadap masa depan anak-anak.

Namun sebaiknya dihitung terlebih dahulu perkiraan dana pendidikan yang perlu dikumpulkan sampai jenjang tertentu buat anak, setelah itu kita lihat kemampuan keuangan keluarga, berapa yang bisa kita alokasikan buat penyiapan dana pendidikan kita. Terakhir kita pilih jenis dan produk investasi yang sesuai dan efektif untuk mencapai dana pendidikan yang kita inginkan.

 

Sekali lagi, Asuransi bukan Investasi!

Tidak Kenal Arnold

Saya lupa, setiap generasi miliki idola sendiri.

Kemarin, dalam diskusi kecil di kelas, saya contohkan beberapa artis yang terjun menjadi pejabat eksekutif.

Salah satunya saya Arnold Schwarzenegger. Saya tanya kalian tahu kan Arnold? Mereka semua geleng-geleng Kepala.

Masa tidak tahu, itu aktor terkenal yang kemudian pernah menjadi Gubernur California, mereka tetap geleng-geleng.

Mereka malah tahu Zumi Zola, Gubernur Jambi.

Memang setiap masa ada idolanya sendiri.

Tidak Kenal Arnold

Jelang Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid 2: Sejarah berpihak pada Indonesia

heroik-indonesia-libas-thailand-2-1-di-leg-i-final-piala-aff-2016-mvm
Timnas Indonesia kalahkan Thailand Final Leg pertama AFF Suzuki Cup 2016 Rabu lalu (Sumber: Sindonews.com)

Alhamdulillah, prediksi saya di laman blog ini ternyata salah. Timnas berhasil melanjutkan kiprahnya sampai ke laga akhir. Padahal pada tulisan tersebut saya prediksi timnas kita hanya akan menghuni peringkat tiga klasemen pada akhir penyisihan.

Tentu semua kita tahu, kuncinya adalah pada laga lawan tuan rumah Filipina. Bermain terbuka timnas berhasil menyarangkan dua gol tetapi juga kemasukan dua gol. Selain pertandingan itu, semuanya sesuai di atas kertas.

Memasuki pertandingan semifinal yang dilakukan dengan sistem kandang-tandang hitungannya memang jadi berbeda, faktor mental berpengaruh lebih dominan dibanding pada penyisihan grup. Alhamdulillah, Vietnam berhasil dilewati, tibalah timnas di laga puncak melawan tim unggulan favorit juara, dan mempercundangi timnas di penyisihan grup, Thailand.

Bahkan, dua hari lalu timnas sudah menjalani final leg pertamanya. Sebagai underdog maka timnas melakukan laga kandang terlebih dahulu. Stadion Pakansari menjadi saksi ketika Rizki Pora, membalikkan momentum setelah menerima umpan error, Theerathon Bunmathan dan sundulan Hansamu.

Tinggal final leg kedua yang akan dilaksanankan besok di Rajamangala, Bangkok. Siapa yang akan mengangkat trofi ditentukan esok.

Tradisi memihak Indonesia

Bila melihat tradisi final Piala AFF, Indonesia bisa bernafas lega. Sejak pertama kali final menggunakan sistem kandang-tandang tahun 2004, hanya sekali tuan rumah leg kedua merasakan Juara di kandangnya, yakni pada tahun 2004 itu ketika Singapura juara mengalahkan Indonesia 1-3 dan 2-1, aggregat 5-2.

Setelah itu sampai pelaksanaan tahun 2014 lalu tim unggulan yang biasanya mendapat jatah tuan rumah pertandingan leg kedua selalu kalah.

Masih ingat bagaimana timnas pada final AFF 2010, kalah leg pertama di Bukit Jalil 0-3 kemudian menang 2-1 di leg kedua, aggregat kalah 4-2, Malaysia berpesta di GBK.

Tahun 2014 lalu Thailand mengangkat trofinya di Bukit Jalil setelah menang 3-0 di leg pertama, kemudian kalah 2-3 di leg kedua.

Tahun 2017, Singapura menang 2-1 di kandang (persis timnas rabu lalu), kemudian berhasil menahan imbang Thailand 1-1 di Bangkok (minimal besok kayak gini). Singapura mengulanginya tahun 2012 dengan lawan yang sama Thailand, menang 3-1 di leg pertama, kalah 0-1 pada leg kedua. Singapura duakali Juara di Rajamangala.

Vietnam melakukan hal serupa tahun 2008, menang 2-1 di laga pertama, hasil 1-1 diĀ  Bangkok membuat Thailand kembali meratap dan gagal merengkuh Juara di hadapan pendukungnya.

Besok mudah-mudahan, Indonesia memiliki mental yang kuat menghadapi serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid kedua.

Semoga.

*Pengamat Bola Amatiran

 

Jelang Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid 2: Sejarah berpihak pada Indonesia

4 Juli 2002, Dari Karyawan ke Mahasiswa

Perjalanan hidup memang kadang terjadi dengan cepat. Salahsatunya adalah kisah pertengahan 2002 ini.

Shubuh itu, anak jelang usia 22 tahun harus mengarungi perjalanan panjang sendirian. Perjalanan disebut panjang karena baru besok sorenya baru akan tiba di tempat tujuan.

Bapak tidak bisa mengantar, karena terbiasa itikaf di mesjid sampai terbit fajar, Ibu hanya bisa mengantar sampai ujung gang, selanjutnya perjalanan harus dilakoni sendirian.

Terminal Ciwidey baru saja berpindah tempat sekira dua hari, sehingga perjalanan dari rumah yang biasanya cukup dengan berjalan kaki, kini harus ditempuh dengan ojek atau angkutan. Saya lupa waktu itu naik angkutan atau ojek.

Perjalanan Elf Mitsubishi L300 yang dijadikan moda angkutan Ciwidey – Bandung ini terbilang lancar, karena Bandung tidak semacet sekarang, ditambah perjalanan dilakukan masih dalam gelap.

Sampai di Leuwipanjang perjalanan dilanjutkan dengan Bus Kota Jurusan Leuwipanjang – Dago kemudian turun di Stasiun Bandung untuk dilanjutkan menggunakan Kereta Api sampai Stasiun Gambir. Barulah sampai Stasiun Bandung sesuai rencana bertemu dengan kawan yang sama-sama akan kembali ke Batam.

Dari Stasiun Gambir kami menggunakan taksi menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Sopir taksi bilang bila tenggat waktu kami sempit, dia agak ngebut menuju Pelabuhan. Untung perjalanan lancar, sekira jam 13.30 kami tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan langsung menuju Kapal Motor (KM) Kelud, KM ini akan membawa kami ke Pulau Batam. Perjalanan ditempuh sekira 24 jam, jadi jam 14.00 besok hari baru kami akan tiba.

Alhamdulillah perjalanan lancar. 5 Juli 2002 kami sampai dan kembali beraktivitas seperti biasa.

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)

Setelah SPMB (sekarang SBMPTN) selesai dilaksanakan, perjalanan itu kami lakukan. Sebagai karyawan swasta kami mendapat jatah cuti tahunan selama 12 hari. Saya waktu itu menggabungkan jatah cuti selama dua tahun.

Cuti kami gunakan untuk mempersiapkan ikut SNMPTN di kesempatan terakhir. Pembelian formulir tidak sempat kami beli sendiri dan titip beli pada saudara kawan yang juga ikut SPMB.

Alhamdulillah, dengan strategi yang tepat, saya bisa lulus dan resign dari tampat kerja sebulan kemudian.

Cerita disambung pada tulisan selanjutnya.

4 Juli 2002, Dari Karyawan ke Mahasiswa

Jelang AFF 2016: Almost is Never Enough

Hari ini AFF Suzuki Cup 2016 mulai bergulir. Turnamen sepakbola dua tahunan ini lebih menarik untuk diikuti — bagi sebagian orang— dibanding Piala Dunia.

Lebih menarik karena Timnas ikut berkompetisi. Kini, mungkin tingkat AFF sajalah Timnas kita bisa ikut bertanding, karena jangankan Piala Dunia, Piala Asia saja sulit timnas menembus putaran final. Terakhir kita menyaksikan timnas berlaga di Piala Asia tahun 2007 ketika Jakarta menjadi Tuan Rumah.

Kembali ke AFF Cup, judul di atas adalah tagline sebuah preview perjalanan timnas di AFF Cup 2004. Judul di atas memang mewakili perjalanan timnas di AFF.

Indonesia tercatat empat kali masuk final Piala AFF ini, 2000, 2002, 2004 dan 2010. Dari empat kali penampilan di final, kesemuanya dilakoni dengan drama kegagalan. Final tahun 2000 bisa dibilang posisi Indonesia memang underdog, karena melawan unggulan utama dan tuan rumah saat itu Thailand.

Tetapi tahun 2002, ketika timnas menjadi tuan rumah, timnas yang menjanjikan sepanjang turnamen, gagal menjadi juara setelah kalah adu penalti melawan (kembali) Thailand. Almost is Never Enough #1.

Dua tahun kemudian, tahun 2004, publik dikenalkan dengan talenta alami anak muda 17 tahun Boaz Solossa. Vietnam dihajar 3-0 di depan pendukungnya pada babak penyisihan. Malaysia dihabisi di stadion kebanggannya sendiri, Bukit Jalil. Sayang, di final, Indonesia gagal menaklukan tim yang baru saja melakukan naturalisasi sejumlah pemain asing, Singapura. Almost is Never Enough #2.

2010, lebih tragis. Indonesia yang menguasai turnamen dan melangkah ke final tanpa kekalahan. Harus menyerah di final kepada tim yang dia kalahkan dengan telak pada pertandingan pertama, Malaysia. Almost is Never Enough #3.

AFF Suzuki Cup 2016

Lalu bagaimana tahun ini? Sepertinya tagline Almos is Never Enough tidak akan digunakan. Kita memang ingin timnas berjaya bahkan juara, tapi realiastis juga harus. Berada di grup neraka peluang untuk lolos ke semifinal sangat tipis kalau tidak dibilang tertutup.

Hari ini, matchday satu, Indonesia harus berhadapan dengan tim favorit juara dan juara bertahan, Thailand. Tiga hari kemudian harus berhadapan dengan tuan rumah Filipina dengan materi yang tidak jauh berbeda dengan materi yang hancurkan Indonesia dua tahun lalu 0-4. Laga terakhir yang mungkin agak berpeluang karena Singapura tidak sekuat beberapa tahun sebelumnya.

Di atas kertas, Indonesia mungkin akan menduduki peringkat tiga klasemen akhir dan gagal ke semifinal. Untunglah, permainan di atas rumput kadang berbeda hasilnya dengan perhitungan di atas kertas.

Semoga dengan materi muda yang lebih segar, timnas kita membuktikan bahwa mereka layak menyandang Merah Putih di dada. Mengoreksi pandangan saya ini, masuk final, juara dan tidak perlu ada Almost is Never Enough keempat.

Selamat Berjuang!

Jelang AFF 2016: Almost is Never Enough