Jelang AFF 2016: Almost is Never Enough

Hari ini AFF Suzuki Cup 2016 mulai bergulir. Turnamen sepakbola dua tahunan ini lebih menarik untuk diikuti — bagi sebagian orang— dibanding Piala Dunia.

Lebih menarik karena Timnas ikut berkompetisi. Kini, mungkin tingkat AFF sajalah Timnas kita bisa ikut bertanding, karena jangankan Piala Dunia, Piala Asia saja sulit timnas menembus putaran final. Terakhir kita menyaksikan timnas berlaga di Piala Asia tahun 2007 ketika Jakarta menjadi Tuan Rumah.

Kembali ke AFF Cup, judul di atas adalah tagline sebuah preview perjalanan timnas di AFF Cup 2004. Judul di atas memang mewakili perjalanan timnas di AFF.

Indonesia tercatat empat kali masuk final Piala AFF ini, 2000, 2002, 2004 dan 2010. Dari empat kali penampilan di final, kesemuanya dilakoni dengan drama kegagalan. Final tahun 2000 bisa dibilang posisi Indonesia memang underdog, karena melawan unggulan utama dan tuan rumah saat itu Thailand.

Tetapi tahun 2002, ketika timnas menjadi tuan rumah, timnas yang menjanjikan sepanjang turnamen, gagal menjadi juara setelah kalah adu penalti melawan (kembali) Thailand. Almost is Never Enough #1.

Dua tahun kemudian, tahun 2004, publik dikenalkan dengan talenta alami anak muda 17 tahun Boaz Solossa. Vietnam dihajar 3-0 di depan pendukungnya pada babak penyisihan. Malaysia dihabisi di stadion kebanggannya sendiri, Bukit Jalil. Sayang, di final, Indonesia gagal menaklukan tim yang baru saja melakukan naturalisasi sejumlah pemain asing, Singapura. Almost is Never Enough #2.

2010, lebih tragis. Indonesia yang menguasai turnamen dan melangkah ke final tanpa kekalahan. Harus menyerah di final kepada tim yang dia kalahkan dengan telak pada pertandingan pertama, Malaysia. Almost is Never Enough #3.

AFF Suzuki Cup 2016

Lalu bagaimana tahun ini? Sepertinya tagline Almos is Never Enough tidak akan digunakan. Kita memang ingin timnas berjaya bahkan juara, tapi realiastis juga harus. Berada di grup neraka peluang untuk lolos ke semifinal sangat tipis kalau tidak dibilang tertutup.

Hari ini, matchday satu, Indonesia harus berhadapan dengan tim favorit juara dan juara bertahan, Thailand. Tiga hari kemudian harus berhadapan dengan tuan rumah Filipina dengan materi yang tidak jauh berbeda dengan materi yang hancurkan Indonesia dua tahun lalu 0-4. Laga terakhir yang mungkin agak berpeluang karena Singapura tidak sekuat beberapa tahun sebelumnya.

Di atas kertas, Indonesia mungkin akan menduduki peringkat tiga klasemen akhir dan gagal ke semifinal. Untunglah, permainan di atas rumput kadang berbeda hasilnya dengan perhitungan di atas kertas.

Semoga dengan materi muda yang lebih segar, timnas kita membuktikan bahwa mereka layak menyandang Merah Putih di dada. Mengoreksi pandangan saya ini, masuk final, juara dan tidak perlu ada Almost is Never Enough keempat.

Selamat Berjuang!

Advertisements
Jelang AFF 2016: Almost is Never Enough

Menikmati Bandung

Menikmati Bandung itu tiada habisnya. Walaupun macet semakin menggila tapi Bandung tetaplah Bandung, Kota dengan sejuta pesona.

Bila kita baca Buku terbaru “Bandung Purba”, penulis mengungkapkan bahwa penduduk Bandung sudah mulai merangsek ke lereng-lereng untuk membuat hunian baru.

Bandung makin penuh. Pintu tol Pasteur macet bukan hanya akhir pekan, tetapi hampir tiap hari. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi macet dilakukan. Hari-hari ini macet makin menggila akibat pembangunan itu.

Cihampelas makin macet karena pembangunan Skywalk. Baru saja ada orang menjadi korban akibat galian di sekitar Dago. Kawasan  selatan Kiaracondong macet karena jalan sedang di beton, sementara di Kiaracondong sebelah Utara laju lalu lintas juga tertahan karena pembangunan Flyover. Walau saya tidak yakin apakah usaha ini akan mengurangi kemacetan Kota. Tidak, saya tidak yakin.

Bandung harus segera membangun sistem transportasi massal, kalau tidak sebentar lagi macet seperti Jakarta bisa kita nikmati pula di Bandung. Tapi bila mau membangun transportasi massal modern seperti MRT dari mana biayanya? Itulah masalahnya. Tapi katanya sedang dimulai pembangunan koridor awal, semoga!

Bandung oh, Bandung, pesonamu membuat orang-orang berdatangan menyemut, menikmati keindahanmu. Tinggallah para pemimpin Kota berpikir keras membuat Bandung tetap nyaman, bukan hanya untuk pendatang tapi juga untuk warga Bandung. Bukan cuma untuk kalangan menengah ke atas yang bisa menikmati Bandung, tapi bagi semua kalangan.

Demikian, coretan teu puguh warga Kota Bandung.

Menikmati Bandung

PON Jawa Barat ricuh?

Suasana venue pertandingan tenis meja PON XIX 2016 Jawa Barat

Setelah 51 tahun, Jawa Barat kembali menjadi Tuan Rumah PON, tentu hal ini merupakan sebuah kebanggaan. Multievent olahraga ini akan hadir tidak jauh dari rumah tempat kita, sayang sekali kalau kita lewatkan.

Setelah pembukaan tanggal 17 September PON berlangsung di beberapa daerah. Dua hari berlalu saya mendengar PON ricuh, kejadian yang menjadi ukuran adalah peristiwa tawuran pada cabang Polo Air.

Sejak itu berita seakan di-blowup PON ricuh, sementara info dari teman-teman, pernyataan langsung dari sebagian besar atlet dan offisial dan mahasiswa-mahasiswa yang menonton di lapangan melaporkan pertandingan berlangsung seperti biasa. Memang ada beberapa ketidakpuasan atas putusan pengadil, tapi saya pikir dalam pertandingan itu biasa dan bisa diselesaikan.

Saya pernah tengok cabang Tenis di Taman Maluku dan Sepatu Roda di Jalan Ambon, keadaannya kondusif. Hari sabtu pagi, saya tonton Semifinal Tenis Meja di ITB Jatinangor, melihat kondusifitasnya, ketika istirahat pertandingan yang sekitar tiga jam lebih saya jemput keluarga untuk nonton bareng Final Beregu Putra dan Putri, aman pisan dan kami pulang tanpa trauma.

Jadi simpulan saya, secara umum, hampir semua cabang pertandingan telah dilaksanakan dengan aman. Kalaupun ada masalah para panitia dan pihak keamanan telah memiliki prosedur penyelesaian yang baku.

Kemudian, salah satu yang tidak fair menurut saya adalah membandingkan penyelenggaraan PON dengan penanganan bencana Garut dan Sumedang. PON adalah kegiatan yang direncanakan bertahun-tahun lalu. Anggaran telah dialokasikan sedemikian rupa. Beberapa pihak malah menilai anggaran PON tahun ini sangat efisien bila dibandingkan dengan event serupa sebelumnya.

Sedangkan bencana terjadi diluar rencana terjadi dalam waktu dan tempat yang tidak bisa diperkirakan. Walau demikian, kita yakin bahwa pemerintah baik pusat dan daerah telah memiliki prosedur tanggap bencana dan telah pula dilaksanakan untuk menangani bencana yang terjadi. Jadi membandingankan keduanya adalah tidak fiar. Menurut saya, Pemerintah baru bisa kita kritisi bila, dia hanya fokus pada event yang ada tapi abai melakukan penanganan tanggap bencana sesuai prosedur yang ada.

Marilah kita menilai dengan proporsional. Tentu kita berduka dengan bencana yang menimpa saudara-saudara kita, mendorong pemerintah melakukannya perannya dengan optimal serta memberikan kepedulian sosial melalui doa dan donasi. Di lain pihak, event olahraga yangn telah direncanakan bertahun-tahun ini yang merupakan amanah dari bangsa Indonesia juga harus ditunaikan dengan baik penyelenggaraannya.

Demikian corat-coret warga Jawa Barat, Salam Jabar Kahiji, Jabar Ngahiji.

Semifinal Beregu Putra Tenis Meja PON XIX 2016
PON Jawa Barat ricuh?

Film Sully (2016)

Sully adalah film yang diambil dari kisah nyata pendaratan di sungai Hudson pesawat US Airways 1549. Pendaratan di sungai terpaksa dilakukan setelah kawanan burung menabrak pesawat tak lama setelah lepas landas dan menyebabkan kedua mesin pesawat mati.

Setelah opsi untuk mendaratkan pesawat di dua bandara terdekat tidak memungkinkan, Kapten Sully memutuskan untuk melakukan water landing di sungai Hudson. Pendaratan berhasil menyelematkan semua penumpang dan awaknya.

Sully seketika dianggap pahlawan oleh sebagian besar media massa dan publik, tapi tidak bagi National Transportation Safety Board — kalau di sini semacam KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi). Sully dianggap bersalah dan harus disidang, karena dianggap membahayakan penumpang dan awak penerbangan. Mereka menganggap dari simulasi yang ada pesawat masih bisa kembali ke bandara asal atau mendarat di bandara terdekat dan tidak mendarat di Sungai.

Di akhir cerita, Sully berdasarkan pengamatan waktu simulasi yang dilakukan berhasil membuat dugaan penyelidik salah karena tidak memperhatikan waktu antara tabrakan dengan waktu yang digunakan Pilot dan Co-Pilot untuk memeriksa kondisi dan mengambil keputusan. Padahal semua bukti dan opini sudah mengarah dan memojokan Sully.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini, terutama keyakinan akan kebernaran yang perlu kita pertahankan sembari mencari bukti serta argumen yang tepat untuk menjungkalkan semua opini yang dibangun untuk memojokkan.

Lihat trailer film Sully di sini

Film Sully (2016)

Menjelang PON 2016

Setelah 55 tahun, Bandung kembali menjadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Nasional. PON yang ke 19 ini akan dibuka besok di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Bagi yang suka terbang-terbang dan mendarat di Bandara Husein Sastranegara, biasanya suka melihat jelas Stadion ini ketika Pesawat approach memutar untuk bersiap mendarat.

Entah mengapa saya justru malah agak-agak kurang antusias menyambut PON tahun padahal dilaksanakan di kota sendiri, karena beban yang cukup besar. Dalam setiap kejuaraan multievent seperti ini setiap rumah punya dua beban, sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi. Ini juga tercermin dalam tagline Jawa Barat dalam PON kali ini, Jabar Ngahiji, Jabar Kahiji.

Jabar kahiji memang penting, Jabar terakhir kali mencapai Juara Umum PON persis 55 tahun yang lalu ketika menjadi Tuan Rumah. Tapi lebih penting sukses penyelenggaraan, aman secara hukum dan memberikan hiburan dan kegembiraan bagi seluruh rakyat Jawa Barat. Walau yang baru terasa sampai H-1, adalah penambahan jalur-jalur macet di Kota Bandung

Menjelang PON 2016

Tahun 2000, Dua Kali Lebaran di Perantauan

Kawasan Industri Mukakuning Jadul (sumber: Facebook)

Ketika orang-orang sebaya sibuk kerjakan tugas kuliah tingkat satu, kita baru selesaikan sekolah menengah.

Sekolah kami memang berjenjang empat tahun. Pada tahun keempat kami dipersiapkan betul untuk memasuki dunia kerja.

Akhir tahun 1999, tepatnya November kami lolos seleksi PKL pada sebuah industri semikonduktor di Kawasan Industri Mukakuning, Pulau Batam. Tibalah saatnya pertama kali dalam hidup, saya kami jauh dari orang tua. Mereka mengantarkan kami sampai sekolahan saja. Selanjutnya kami diberangkatkan memakai bis menuju pelabuhan Tanjung Priok. 

Perjalanan kami lanjutkan dengan Kapal Motor (KM) Kelud menuju pelabuhan Sekupang, Batam. Perjalanan ditempat sekira 24 jam. Kapal mulai berlayar pukul 14 dan sampai pukul 14 keesokan harinya.

Kami akan melakukan Internship Program selama lima bulan, hal ini juga akan membuat kami menjalani Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha pertama tanpa orang tua. Di wilayah yang benar asing pada usia belum genap 20. Benar-benar ujian mental.

Ingat betul pada tahun 2000 itu, Idul Fitri berlangsung dua kali, satu bulan Januari dan satu kali bulan Desember.

Kami sempat pulang untuk sidang dan mengurus kelulusan sekira tiga bulan. Bulan Juli 2000 kami dijemput kembali untuk menjadi karyawan, bukan lagi sebagai peserta magang.

Sehingga pada lebaran kedua pada tahun 2000 itu kami sudah kembali di Batam dengan status karyawan.

Tahun 2000, dua kali lebaran di perantauan.

Batam mungkin engkau tidak, tapi #AkuRindu

Tahun 2000, Dua Kali Lebaran di Perantauan