4 Juli 2002, Dari Karyawan ke Mahasiswa

Perjalanan hidup memang kadang terjadi dengan cepat. Salahsatunya adalah kisah pertengahan 2002 ini.

Shubuh itu, anak jelang usia 22 tahun harus mengarungi perjalanan panjang sendirian. Perjalanan disebut panjang karena baru besok sorenya baru akan tiba di tempat tujuan.

Bapak tidak bisa mengantar, karena terbiasa itikaf di mesjid sampai terbit fajar, Ibu hanya bisa mengantar sampai ujung gang, selanjutnya perjalanan harus dilakoni sendirian.

Terminal Ciwidey baru saja berpindah tempat sekira dua hari, sehingga perjalanan dari rumah yang biasanya cukup dengan berjalan kaki, kini harus ditempuh dengan ojek atau angkutan. Saya lupa waktu itu naik angkutan atau ojek.

Perjalanan Elf Mitsubishi L300 yang dijadikan moda angkutan Ciwidey – Bandung ini terbilang lancar, karena Bandung tidak semacet sekarang, ditambah perjalanan dilakukan masih dalam gelap.

Sampai di Leuwipanjang perjalanan dilanjutkan dengan Bus Kota Jurusan Leuwipanjang – Dago kemudian turun di Stasiun Bandung untuk dilanjutkan menggunakan Kereta Api sampai Stasiun Gambir. Barulah sampai Stasiun Bandung sesuai rencana bertemu dengan kawan yang sama-sama akan kembali ke Batam.

Dari Stasiun Gambir kami menggunakan taksi menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Sopir taksi bilang bila tenggat waktu kami sempit, dia agak ngebut menuju Pelabuhan. Untung perjalanan lancar, sekira jam 13.30 kami tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan langsung menuju Kapal Motor (KM) Kelud, KM ini akan membawa kami ke Pulau Batam. Perjalanan ditempuh sekira 24 jam, jadi jam 14.00 besok hari baru kami akan tiba.

Alhamdulillah perjalanan lancar. 5 Juli 2002 kami sampai dan kembali beraktivitas seperti biasa.

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)

Setelah SPMB (sekarang SBMPTN) selesai dilaksanakan, perjalanan itu kami lakukan. Sebagai karyawan swasta kami mendapat jatah cuti tahunan selama 12 hari. Saya waktu itu menggabungkan jatah cuti selama dua tahun.

Cuti kami gunakan untuk mempersiapkan ikut SNMPTN di kesempatan terakhir. Pembelian formulir tidak sempat kami beli sendiri dan titip beli pada saudara kawan yang juga ikut SPMB.

Alhamdulillah, dengan strategi yang tepat, saya bisa lulus dan resign dari tampat kerja sebulan kemudian.

Cerita disambung pada tulisan selanjutnya.

4 Juli 2002, Dari Karyawan ke Mahasiswa

Tahun 2000, Dua Kali Lebaran di Perantauan

Kawasan Industri Mukakuning Jadul (sumber: Facebook)

Ketika orang-orang sebaya sibuk kerjakan tugas kuliah tingkat satu, kita baru selesaikan sekolah menengah.

Sekolah kami memang berjenjang empat tahun. Pada tahun keempat kami dipersiapkan betul untuk memasuki dunia kerja.

Akhir tahun 1999, tepatnya November kami lolos seleksi PKL pada sebuah industri semikonduktor di Kawasan Industri Mukakuning, Pulau Batam. Tibalah saatnya pertama kali dalam hidup, saya kami jauh dari orang tua. Mereka mengantarkan kami sampai sekolahan saja. Selanjutnya kami diberangkatkan memakai bis menuju pelabuhan Tanjung Priok. 

Perjalanan kami lanjutkan dengan Kapal Motor (KM) Kelud menuju pelabuhan Sekupang, Batam. Perjalanan ditempat sekira 24 jam. Kapal mulai berlayar pukul 14 dan sampai pukul 14 keesokan harinya.

Kami akan melakukan Internship Program selama lima bulan, hal ini juga akan membuat kami menjalani Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha pertama tanpa orang tua. Di wilayah yang benar asing pada usia belum genap 20. Benar-benar ujian mental.

Ingat betul pada tahun 2000 itu, Idul Fitri berlangsung dua kali, satu bulan Januari dan satu kali bulan Desember.

Kami sempat pulang untuk sidang dan mengurus kelulusan sekira tiga bulan. Bulan Juli 2000 kami dijemput kembali untuk menjadi karyawan, bukan lagi sebagai peserta magang.

Sehingga pada lebaran kedua pada tahun 2000 itu kami sudah kembali di Batam dengan status karyawan.

Tahun 2000, dua kali lebaran di perantauan.

Batam mungkin engkau tidak, tapi #AkuRindu

Tahun 2000, Dua Kali Lebaran di Perantauan

Mengenang Percakapan dengan Khurujers

Mohon maaf ingin cerita sedikit. Kalau tidak salah ini terjadi sekitar tahun 2000. Ketika menjadi buruh pabrik di pulau Batam kenal beberapa harakah islam termasuk teman-teman dari jamaah tabligh.

Ketika di kampung, beberapa tahun sebelumnya, pernah ada yang datang ke mesjid kampung nginep beberapa malam, saya tidak tahu nama jamaahnya, ketika di Batamlah kemudian menjadi tahu tentang jamaah ini. Ditambah dengan pimpinan jamaahnya waktu itu merupakan rekan setim kerja di pabrik. Namanya juga masih ingat tapi tidak perlu disebutlah. Beberapa kawan seangkatan ada yang pernah bergabung jamaah ini walau kemudian beralih ke jamaah lain yang juga berkembang di Batam.

Banyak hal yang didiskusikan dengan teman-teman jamaah ini, beberapa diantaranya karena memang sekota tempat asal, ada kakak kelas yang juga setim juga akhirnya dipinang oleh salah satu aktivis jamaah ini. Si teteh ini juga dulu banyak diskusi, cerita dan curhat pernik rumah tangga mereka, saya pikir sangat bermanfaat buat bekal nanti.

Kesederhanaan menjadi ciri utama mereka, qanaah dan rendah hati ciri yang lain selain kelemahlembutan yang mereka tampilkan. Faktor terakhir ini mungkin yang agak kurang pas bagi saya yang agak progressif. Selain itu ada faktor manhaj yang kurang komprehensif. Dalam hal jodoh salah satunya, beberapa rekan kerja wanita pernah alami ditembak langsung by phone, diajak menikah, tapi tidak perlu dibahas lebih jauh.

Tahun 2000 adalah tahun ketika terjadi pembantaian muslim Ambon. Ketika jamaah lain membentuk kelompok milisi yang diberangkatkan ke Ambon dalam wadah FKAWJ (dua kawan kemudian syahid di Ambon). Dalam sebuah percakapan, saya bertanya, apa yang harus dilakukan terhadap pemerintahan yang tidak berpihak kepada umat islam sehingga kurang tegas dalam penanganan kasus Ambon, sederhananya apa yang harus dilakukan terhadap pemimpin yang dzalim dan ingin tahu konsep kepemimpinan politik jamaah ini.

Saya tidak tahu apa ini jawaban resmi atas pemahaman jamaah ini atau bukan, saya anggap jawaban pribadi saja. Jawabannya kala itu kurang lebih yang saya tangkap adalah pemimpin dzalim tersebut harus kita doakan dan sebagai muslim kita harus memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan berbagai sunah agar peluang doa kita untuk dikabulkan semakin besar. Ketika saya desak ikhtiar lain, nyaris tidak ada jawaban yang lebih progresif.

Alhamdulillah walau kurang sependapat dengannya, komunikasi tetap terjalin dan saling menghormati. Kebetulan di beberapa hari ini di mesjid komplek juga ada jamaah ini, tadi pagi sama-sama ikuti talim rutin di mesjid komplek.

Saya pikir sikap saling hormat ini harus terus kita pelihara, termasuk jika ada kemudian bagian umat islam yang pergunakan sosmed untuk bangun opini sebagai upaya perjuangan islam rebut kekuasaan, selama masih dalam koridor harus juga saling menghormati. Karena memang jalan perjuangan yang diambil berbeda, tapi yakin semuanya memiliki niat baik untuk menegakkan kalimah Allah.

Wallahu’alam.

Mengenang Percakapan dengan Khurujers

Hari Terakhir di Batam

Kemarin adalah hari terakhir di 2012, hari ini adalah hari pertama 2013.

Hampir semua kita ketahui akhirnya kecuali beberapa hal yang tidak bisa kita tentukan akhirnya, salah satunya adalah mati.

Terbangun tidur siang barusan tiba-tiba ingat beberapa peristiwa terakhir, hari kuliah terakhir, hari perjaka terakhir dan hari terakhir di Batam. Yang terakhir ini saya coba urai sebagai kenangan.

Tepat hari Jumat 9 Agustus 2002, saya akhiri pengembaraan di Pulau Batam. Dua tahun lebih setiap hari mengukir cerita di Pulau penuh kenangan ini.

Pagi itu saya terlebih dahulu bergegas ke daerah Jodoh memakak taksi khas Batam untuk mencairkan chek gaji terakhir.

Sepulang dari Jodoh saya mampir ke Komplek Pertokoan Batamindo untuk menebus foto-foto yang sehari sebelumnya dicuci cetak, waktu itu belum belum populer kamera digital.

Saya masih mengingat dimana hari itu saya shalag Jumat, pertama saya shalat di Mesjid Nurul Iman, mesjid yang juga studio radio RGFM yang saya rintis bersama beberapa rekan. Kemungkinan kedua Jumat itu saya shalat Jumat di mesjid Nurul Islam, dekat pertokoan Batamindo.

Selesai shalat jumat, kemudian makan siang dan beresin barang-barang akan dibawa. Memang barang-barang tidak terlalu saya bawa sendiri, beberapa bagian telah saya kirim lewat jasa pengiriman barang.

Sekitar pukul 14 lebih dihantar beberapa teman dengan menggunakan taksi pergilah kami ke bandara dan melewati pabrik tempat selama ini saya bekerja PT. Advanced Interconnect Technologies – sekarang bernama PT. Unisem- jalanan yang tidak terlalu padat membuat waktu tempuh ke bandara bisa tepat. Kemudian saya lakukan proses cek in dan boarding.

Waktu itu alhamdulillah sedang ada promo tiket pesawat dari Bouraq Airlines, kalau tidak ada itu maka tiket pesawat merupakan sesuatu yang mahal, perang tarif seperti saat ini belum ada. Penerbangan dari Batam alhamdulillah lancar dan sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada jam 18.00 lebih.

Dari bandara saya gunakan bus Damri ke terminal bis Kampung Rambutan kemudian dengan mengendarai bis saya mencapai terminal bis Leuwipanjang pada dininari. Tentu saja waktu itu belum ada travel dan tol cipularang, bis mengambil jalur Purwakarta.

Perkembangan komunikasi yang belum secanggih saat ini membuat saya tidak bertemu bapam yang menjemput di Leuwipanjang. Bapak yang kurang sehat memaksakan ikut menjemput berdua dengan saudara yang punya mobil.

Bapak menunggu di tempat setiap bus menurunkan penumpang, sementara saya tidak tercegat dan kemudian menunggu di terminal elf menuju Ciwidey. Ada beberapa orang yang juga menunggu pagi karena memang angkutan menuju Ciwidey biasanya tidak tersedia 24 jam.

Namun tak begitu lama menunggu kemudian ada satu elf yang datang, akhirnya naiklah ke elf tersebut dan menjelang shubuh sudah sampai di Ciwidey, sementara Bapak datang juga beberapa waktu kemudian. Mungkin kalau saat ini dengan kemajuan teknologi informasi dan kumunikasi hal ini bisa dihindari.

Beberapa teman masih meneruskan karirnya di Pulau Batam, yang alhamdulillah tahun 2010 lalu saya bisa menginjakkan kembali ke Pulau penuh cerita yang sudah banyak berubah ini.

Hari Terakhir di Batam