Sekali lagi, Asuransi bukan Investasi!

Banyak berdiskusi dengan orang-orang untuk menyiapkan dana pendidikan anaknya, kebanyakan kawan menyiapkan dengan membeli produk asuransi pendidikan. Dalam dunia keuangan produk ini lebih dikenal dengan unitlink menggabungkan dua barang yang berbeda menjadi satu, yakni Asuransi dan Investasi.

Sederhananya begitu, karena sebernarnya tidak sesederhana itu. Dua barang tersebut harus memiliki izin yang berbeda. Disamping itu kedua barang tersebut juga memiliki peruntukan berbeda. Asuransi diperuntukkan melindungi kita dari peristiwa yang tidak kita inginkan. Apakah kita ingin anak kita tidak memiliki pendidikan? tentu saja tidak, maka sebenarnya terminologi asuransi pendidikan menjadi term yang keliru.

Sementara Investasi diperuntukkan untuk akumulasi/ mengumpulkan dana/ aset lebih cepat untuk mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Jenis-jenis invetasi kita paparkan lebih jauh nanti yah.

Menyiapkan dana pendidikan dengan asuransi pendidikan tentu saja lebih baik dibandingkan dengan tidak menyiapkannya sama sekali. Ini merupakan bentuk tanggungjawab terhadap masa depan anak-anak.

Namun sebaiknya dihitung terlebih dahulu perkiraan dana pendidikan yang perlu dikumpulkan sampai jenjang tertentu buat anak, setelah itu kita lihat kemampuan keuangan keluarga, berapa yang bisa kita alokasikan buat penyiapan dana pendidikan kita. Terakhir kita pilih jenis dan produk investasi yang sesuai dan efektif untuk mencapai dana pendidikan yang kita inginkan.

 

Sekali lagi, Asuransi bukan Investasi!

Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak: Asuransi atau Investasi?

Tulisan ini hanya sekedar berbagi pandangan. Bagi keluarga muda seringkali dihadapkan pada masalah yang cukup rumit terutama saat kehadiran anak.

Banyak keluarga yang kelihatan bingung dalam merencanakan pendidikan anak. Terlebih ditengah banyaknya berbagai produk keuangan yang menawarkan produk-produknya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kita sebagai orang tua dituntut harus jeli dan memiliki kemampuan untuk menganalisis setiap tawaran produk yang ada agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan keluarga.

Hal yang hampir selalu dilupakan para orang tua ketika membeli produk untuk merencanakan pendidikan adalah tidak menghitung dahulu perkiraan kebutuhan biaya pendidikan anak, sehingga ketika ditawari produk kita tidak tahu apakah kira-kira produk tersebut bisa mencukupi kebutuhan biaya pendidikan anak kita.

Investasi adalah kegiatan mengakumulasi aset untuk tujuan tertentu di masa yang akan datang. Sementara, Asuransi adalah melakukan perlindungan terhadap aset yang kita miliki. Dari definisi sederhana ini saja, kita sudah bisa menerka mana yang lebih cocok untuk mempersiapkan dana pendidikan anak kita. Mana produk investasi, mana produk asuransi yang pura-pura jadi produk investasi, itu perlu pembahasan lebih lanjut.

Jadi sebaiknya hitung dahulu kebutuhannya, silah tanya pada ahli beneran. Jangan malu, jangan ragu memberikan fee, karena ahli itu pasti sekolah keuangan itu bayar. Jangan mau dikasih konsultasi gratis karena pasti hasilnya setengah-setengah atau ujung-ujung malah ditawarin produk, banyak loh yang bilang ahli tapi sebenarnya juga marketing.

Ayo, mulai investasi bagi masa depan keluarga!

Salam #IndonesiaSadarFinansial

Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak: Asuransi atau Investasi?

“Investasi apa sekarang yang bagus?”

Sering ada beberapa yang bertanya investasi apa yang sedang bagus. Atau mungkin kita juga sedang menanyakan hal tersebut.

Sebenarnya jawabnya gampang-gampang susah. Begini yah, kalau investasi sedang bagus berarti saat tersebut bukan saatnya untuk invest tapi saat jual atau minimal wait n see.

Kenapa demikian, karena investasi bukan trading, perlu waktu lama untuk menunggu hasil investasi itu pun belum tentu sesuai dengan harapan.

Ketika investasi sedang bagus, maka saat itu sebetulnya adalah saat untuk memetik hasil bukan untuk memulai menanam.

Jadi, kalau hari ini bursa saham sedang tinggi-tingginya bukan berarti saatnya memetik hasil investasi yang kita mulai ketika saham belum tinggi seperti sekarang.

Kalau kita memulai investasi ketika bursa bergerak turun, bukankah itu hanya sama saja dengan merencanakan kerugian? Begitu kan logikanya?.

Bagaimana cara memperkirakan bursa bergerak kemana? banyak buku yang bisa kita pelajari.

Tapi yang jelas, kalau sesuatu bergerak terus menerus ke ketinggian, siap-siap akan kejatuhannya.

“Investasi apa sekarang yang bagus?”

(Kembali) Tentang Resiko Investasi

gambar resiko

Dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, salah seorang teman terlihat tertarik untuk lakukan investasi untuk pendidikan anak namun terganjal ketika tahu bahwa investasi memiliki resiko.

Saya bukan ingin bukan membahas macam-macam resiko investasi, jika kita sejenak bahwa, hampir keseluruhan kehidupan memiliki resiko.

Begitu juga dengan investasi, tentu memiliki resiko. Resiko ini harus dikelola, supaya resiko menjauh dari investasi yang dilakukan. Bisa dengan menggunakan jangka waktu dalam berinvestasi, membentuk dana darurat atau membeli sejumlah proteksi untuk menutupi resiko.

Walaupun sudah berupaya sedemikian rupa apakah resiko jadi hilang, tetap saja ada, tetapi mengecil. Seperti orang hidup yang memiliki resiko mati, apakah dengan menjaga perilaku hidup sehat untuk mengurangi kematian, tetapi apakah resiko kematian menjadi hilang tetap saja ada, bukan?

Jadi mengapa harus berinvestasi kalau beresiko, karena kita memerlukan pencapaian tujuan keuangan kita —pendidikan anak, dana pensiun, ibadah haji, rumah yang lapang, mobil yang nyaman— secara efektif dan lebih cepat.

*Gambar dari http://www.teropongbisnis.com

(Kembali) Tentang Resiko Investasi

Membuat Dana Pensiun Sendiri

Beberapa hari ini sedang hangat-hangatnya wacana penghapusan tunjangan pensiun bagi Pegawai Negeri Sipil. Kalau sudah menyangkut keuangan, wacana ini segera ramai dibicarakan di kalangan para aparat birokrasi.

Sampai saat ini, wacananya masih belum jelas benar. Ada beberapa wacana, seperti penghapusan tunjangan pensiun dari APBN, artinya tunjangan masih diberikan tapi bukan dari APBN. Ada juga wacana tunjangan pensiun dibayar dimuka, seperti pesangon.

Wacana apapun yang berkembang, sudah sepatutnya sebagai individu kita respon dengan baik. Respon terbaik menurut saya adalah dengan membuat dan mempersiapkan dana pensiun sendiri.

Berdasarkan analisis terhadap beberapa pensiunan. Dana Pensiun ini berhasil menurunkan gaya hidup para pegawai. Salah satu BUMN terkemuka misalnya, terkenal dengan pengelolaan dana pensiun yang baik dan stabil. Tapi ternyata hasil dana pensiunnya tidak dapat menunjang gaya hidup selama jadi pegawai.

Hal prinsip yang hampir selalu dilewatkan adalah menghitung dulu kebutuhan dana pensiun yang diperlukan, sehingga angka kebutuhan dana pensiun secara presisi bisa diperkirakan. Setelah besaran dana pensiun ada baru kemudian mencari instrumen/ produk investasi yang sesuai dengan kondisi keuangan kita untuk mencapai besaran dana pensiun tadi.

Lebih cepat, atau lebih muda usia mulai membentuk dana pensiun, dana investasi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil. Dan sebaliknya.

Membuat Dana Pensiun Sendiri

Memulai Investasi

Benarlah pendapat para perencana keuangan bahwa merencanakan keuangan sebagian besarnya adalah urusan merubah cara berpikir dan kebiasaan hidup. Ternyata masalah hitung-hitungan dan strategi pencapaian tujuan keuangan itu masalah yang jauh lebih kecil.

Mungkin karena orang kita terlalu bertawakal sehingga lebih cenderung untuk memakai jurus “kumaha engke” dan bukan “engke kumaha” sehingga kebanyakan tidak tertarik untuk menyisihkan sebagian harta demi kebahagian atau kewajiban masa depan. Namun sebagiannya saya yakin ada yang mau menabung dalam produk-produk keuangan konvensional.

Tepat apa yang dikatakan salah seorang finansial adviser, ngelmu dulu baru invest.

Memulai Investasi

Hitung Dulu, Baru Beli

Akhir-akhir ini sering banyak yang tanya, “Investasi apa yang bagus?” atau “Asuransi apa yang bagus?”.

Padahal semua tidak ada yang bagus, yang ada adalah cocok!

Terkadang banyak orang yang beli asuransi dan berinvestasi secara asal saja yang penting berinvestasi/ berasuransi.

Tentu saja itu lebih baik dibanding tidak melakukan apapun. Namun sebenarnya hal tersebut tidak bijak.

Sering banget di temukan kasus salah beli alias produk yang tidak dibeli tidak cocok dengan kebutuhan. Misalkan butuh Uang Pertanggungan (UP) Rp. 1 Miliar eh ternyata produk yang dibeli cuma kasih nilai UP 100 Jutaan.

Atau kasus lain, butuh dana pendidikan Rp. 2 Miliar eh manfaat yang diterima ternyata hanya ratusan juta.

Asal beli

Hal ini menurut temuan di beberapa orang karena yang bersangkutan asal beli produk. Alasan asal belinya bermacam-macam beli karena kasihan sama marketingnya atau marketingnya karena saudara. Namun apapun alasannya ada satu tahapan kebanyakan jarang dilakukan ketika beli produk keuangan.

Tahapan itu yakni, jumlah dana yang dibutuhkan tidak pernah dihitung terlebih dahulu.

Menjual profesi berupa jasa di Indonesia — untuk beberapa profesi– sungguh sulit.

Kebanyakan kasus yang ditemukan karena dua hal, pertama merasa sudah tahu sehingga tidak perlu diskusi dengan profesional, dan yang kedua, tidak mau berkonsultasi karena takut harus bayar, apalagi kalau bayarnya mahal.

Padahal kerugian yang ditimbulkan karena kasus salah beli jauh lebih besar jika dibandingkan dengan biaya konsultasi pada profesional.

Atau kalau tetap tidak mau berkonsultasi secara privat dengan profesional, bisa mengikuti workshop-wrokshop yang ada sehingga bisa menghitung sendiri dengan dibimbing secara intensif.

Jadi hitung dulu, baru beli……

Hitung Dulu, Baru Beli