Jelang Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid 2: Sejarah berpihak pada Indonesia

heroik-indonesia-libas-thailand-2-1-di-leg-i-final-piala-aff-2016-mvm
Timnas Indonesia kalahkan Thailand Final Leg pertama AFF Suzuki Cup 2016 Rabu lalu (Sumber: Sindonews.com)

Alhamdulillah, prediksi saya di laman blog ini ternyata salah. Timnas berhasil melanjutkan kiprahnya sampai ke laga akhir. Padahal pada tulisan tersebut saya prediksi timnas kita hanya akan menghuni peringkat tiga klasemen pada akhir penyisihan.

Tentu semua kita tahu, kuncinya adalah pada laga lawan tuan rumah Filipina. Bermain terbuka timnas berhasil menyarangkan dua gol tetapi juga kemasukan dua gol. Selain pertandingan itu, semuanya sesuai di atas kertas.

Memasuki pertandingan semifinal yang dilakukan dengan sistem kandang-tandang hitungannya memang jadi berbeda, faktor mental berpengaruh lebih dominan dibanding pada penyisihan grup. Alhamdulillah, Vietnam berhasil dilewati, tibalah timnas di laga puncak melawan tim unggulan favorit juara, dan mempercundangi timnas di penyisihan grup, Thailand.

Bahkan, dua hari lalu timnas sudah menjalani final leg pertamanya. Sebagai underdog maka timnas melakukan laga kandang terlebih dahulu. Stadion Pakansari menjadi saksi ketika Rizki Pora, membalikkan momentum setelah menerima umpan error, Theerathon Bunmathan dan sundulan Hansamu.

Tinggal final leg kedua yang akan dilaksanankan besok di Rajamangala, Bangkok. Siapa yang akan mengangkat trofi ditentukan esok.

Tradisi memihak Indonesia

Bila melihat tradisi final Piala AFF, Indonesia bisa bernafas lega. Sejak pertama kali final menggunakan sistem kandang-tandang tahun 2004, hanya sekali tuan rumah leg kedua merasakan Juara di kandangnya, yakni pada tahun 2004 itu ketika Singapura juara mengalahkan Indonesia 1-3 dan 2-1, aggregat 5-2.

Setelah itu sampai pelaksanaan tahun 2014 lalu tim unggulan yang biasanya mendapat jatah tuan rumah pertandingan leg kedua selalu kalah.

Masih ingat bagaimana timnas pada final AFF 2010, kalah leg pertama di Bukit Jalil 0-3 kemudian menang 2-1 di leg kedua, aggregat kalah 4-2, Malaysia berpesta di GBK.

Tahun 2014 lalu Thailand mengangkat trofinya di Bukit Jalil setelah menang 3-0 di leg pertama, kemudian kalah 2-3 di leg kedua.

Tahun 2017, Singapura menang 2-1 di kandang (persis timnas rabu lalu), kemudian berhasil menahan imbang Thailand 1-1 di Bangkok (minimal besok kayak gini). Singapura mengulanginya tahun 2012 dengan lawan yang sama Thailand, menang 3-1 di leg pertama, kalah 0-1 pada leg kedua. Singapura duakali Juara di Rajamangala.

Vietnam melakukan hal serupa tahun 2008, menang 2-1 di laga pertama, hasil 1-1 diĀ  Bangkok membuat Thailand kembali meratap dan gagal merengkuh Juara di hadapan pendukungnya.

Besok mudah-mudahan, Indonesia memiliki mental yang kuat menghadapi serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid kedua.

Semoga.

*Pengamat Bola Amatiran

 

Jelang Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam Jilid 2: Sejarah berpihak pada Indonesia

Piala AFF: Nasib Thailand 2012 sama dengan Indonesia 2010

Nasib Thailand sama persis dengan Indonesia di AFF 2010.

Tidak pernah kalah di babak penyisihan, kemudian tampil anti klimaks di final leg pertama.

Tahun 2010 Indonesia kalah telak di final leg pertama 3-0, kali ini Thailand kala 1-3 dari Singapura.

Kendati kemudian keduanya menang di final leg kedua, Indonesia saat itu menang 2-1, dan kali ini Thailand menang 1-0, tetapi hasil tersebut tidak bisa membawa keduanya menjadi kampin di piala AFF.

Mudah-mudahan, Indonesia bisa tampil dengan Tim terbaik dua tahun mendatang. Cuma Indonesia negara besar sepakbola di Asia Tenggara yang belum pernah cicipi juara AFF.

Nil atau RD?

Menurut saya belum bisa secara tepat membandingkan keduanya. RD gagal membawa tim U-23 rebut emas SEA GAMES tapi kemudian mundur karena diharuskan menyusun tim dari liga yang diakui PSSI.

Dalam kekosongan itulah Nil masuk menjadi bemper, dengan pilihan pemain seadanya dia mencoba meramu timnas, menurut saya dengan hasil yang ada tidak terlalu buruk, apalagi jika dengan materi yang ada bisa dikatakan sudah baik.

Kalau ingin membandingkan lebih adil, berikan Nil jabatan pelatih U-23 untuk SEA GAMES thn 2013 dan berikan kebebasan memilih pemain seperti RD tahun 2011 lalu baru bisa dibandingkan.

Bagaimana bisa jadi perbandingan, yang satu punya kebebaan milih pemain, sementara yang satu materi pilihannya terbatas.

Piala AFF: Nasib Thailand 2012 sama dengan Indonesia 2010